RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam pemilihan umum Amerika Serikat (Pemilu AS) tahun ini, penyelenggara memberikan kesempatan kepada warga AS untuk memberikan suara lebih awal. Suara mereka dikirim melalui pos, maupun secara langsung ke tempat-tempat yang telah ditentukan. Sejauh ini, lebih dari 97 juta pemilih di AS sudah nyoblos lebih awal.

Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, dengan jumlah itu, Pemilu AS ini disebut sudah mencetak sejarah. Di mana jumlah tersebut merupakan 2/3 jumlah pemilih yang melaksanakan hak pilihnya pada 2016.

Hingga Senin sore (2/11) waktu setempat, atau kurang dari 48 jam sebelum waktu pemilihan resmi yang dijadwalkan, seperti dikutip media AS, The New York Times, sejumlah Negara Bagian masih melaksanakan pemungutan suara lebih awal. Secara spesifik, 97 juta lebih warga yang telah melaksanakan pemungutan suara lebih awal dibagi 35,5 juta warga memberikan suara secara langsung ke tempat-tempat yang telah ditentukan. Sebanyak 62,1 juta telah memberikan suara melalui pos.

Berita Terkait : Trump Dimakzulkan DPR AS Dua Kali, Senat Belum Merestui

Jumlah tersebut merupakan laporan dari Proyek Pemilu AS. Laporan ini dimuat di situs web non-partisan yang dijalankan oleh Michael McDonald, seorang Profesor di Universitas Florida, yang melacak data tingkat kota atau kabupaten.

Angka-angka itu mewakili pergeseran dari pemungutan suara satu hari, yang merupakan fondasi dari sistem pemilihan AS selama berabad-abad. Diperkirakan, total partisipasi pemilih tahun ini akan memecahkan rekor yang ditetapkan pada 2016. Saat itu, hampir 139 juta orang memberikan suara.

Meski demikian, situasi ini juga menciptakan ketidakpastian baru untuk kampanye dua calon Presiden AS. Yakni terkait upaya memotivasi pemilih mengambang agar bisa mendukung mereka di hari Pemilu.

Berita Terkait : Siapa Pun Presidennya, AS Tetap Musuh Korut

Partai Demokrat yang mengusung Joseph R Biden Jr atau Joe Biden, saat ini masih unggul dalam sejumlah survei, meski selisihnya tak begitu jauh. Di akhir akhir masa kampanye, Biden bergerilya menemui pemilih kulit hitam dan Latin, yang lebih suka memberikan suara secara langsung di hari pemilu. Hal yang sama juga dilakukan kubu calon Presiden AS dari Partai Republik yang juga petahana, Donald Trump.

Sejauh ini, Negara Bagian Texas dan Hawaii telah melampaui jumlah total pemilih pada 2016. Demikian juga Negara Bagian yang jadi medan pertempuran seperti North Carolina, Georgia, dan Florida, telah melampaui 90 persen dari jumlah pemilih pada 2016.

Di 20 Negara Bagian yang melaporkan pendaftaran untuk pemilih awal, Proyek Pemilu menemukan bahwa 45 persen dari mereka yang telah memilih lebih awal adalah pemilih Demokrat yang terdaftar, 30 persen dari pemilih Republik, dan 24 persen pemilih yang tidak memiliki afiliasi partai.

Baca Juga : Kasus Covid Masih Tinggi, Warga DKI Diminta Tingkatkan Disiplin 3M

Terlihat perbedaan yang amat kentara, antara mereka yang melakukan pemilihan awal dan memilih di hari H Pemilu dari masing-masing kubu. Di sebagian besar Negara Bagian, mayoritas mereka yang melakukan pencoblosan di pemilih awal adalah para pemilih Demokrat.

Sedangkan pemilih kubu Republik, umumnya mereka menunggu untuk melakukan pemilihan pada hari H. Ini karena pernyataan Presiden Trump yang meragukan legitimasi pemilu dan suara mereka yang kemudian dikirimkan lewat pos. [PYB]