RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Terpilih AS Joe Biden akan segera mewajibkan masker, untuk menekan laju penyebaran Covid-19 di Negeri Paman Sam.

Biden yang menjadikan penanganan pandemi Covid-19 sebagai prioritas nomor satu menegaskan, masker bukanlah suatu pernyataan atau sikap politik.

Data Coronavirus Resources Center John Hopkins University menyebutkan, AS yang saat ini berada di peringkat pertama negara terdampak Covid, mencatat 10.036.282 kasus positif dengan 238.053 korban jiwa.

Berita Terkait : Komisi I DPR: Biden Sosok Yang Hormati Perdamaian Dunia

"Tak masalah siapa pun yang Anda pilih, di mana pun Anda memihak sebelum Pilpres. Apa pun partai Anda, pandangan politik Anda. Kita dapat menyelamatkan puluhan ribu nyawa, jika setiap warga mau memakai masker," kata Biden dalam pidato singkatnya di Delaware, usai pertemuan virtual dengan Anggota Dewan Penasehat Covid-19 yang baru dibentuk, Senin (9/11).

"Tak sekadar nyawa Partai Demokrat atau Republik, tetapi nyawa seluruh warga AS," tegasnya.

Tugas berat Biden, terlihat jelas di depan mata. Per Minggu (8/11) lalu, jumlah kasus positif di AS telah melampaui angka 10 juta. "Statistik suram itu menunjukkan, kita akan menghadapi musim dingin yang sangat gelap. Jumlah kasus positif meningkat. Ranjang rumah sakit makin penuh. Tingkat kematian pun terus bertambah," papar Biden.

Berita Terkait : Ucapkan Selamat Untuk Biden-Harris, Jokowi Siap Perkuat Kemitraan Strategis Dengan AS

Pada hari yang sama, produsen farmasi Pfizer mengumumkan, hasil analisis awal uji coba vaksin buatannya menunjukkan bahwa vaksin tersebut efektif dalam mencegah Covid-19.

Ini adalah kabar baik yang dinanti dunia, agar pandemi yang telah merenggut lebih dari 1,2 juta nyawa itu bisa segera berakhir.

"Itu memang kabar bagus. Tapi, kita tetap harus menjalankan protokol dasar pencegahan Covid, agar situasi dapat kembali normal seperti semula," tutur Biden.

Berita Terkait : Menangkan Pilpres AS, Biden-Harris Banjir Ucapan Selamat Di Twitter

"Kita tak akan selamanya pakai masker. Tapi paling tidak, sampai vaksin ditemukan. Apalagi, sekalipun telah disetujui, vaksin ini tak akan langsung tersedia dalam waktu dekat," tandasnya.
 Selanjutnya