RMco.id  Rakyat Merdeka - Selandia Baru berduka. Kita juga berduka. Dunia juga berduka. Teroris biadab melakukan penembakan brutal dan membabi buta ke jamaah di dua masjid di Christchurch, kemarin.

Para jamaah yang sedang salat Jumat itu diberondong senapan serbu. Videonya beredar di media sosial. Menyayat hati. Tak tega melihatnya. Pemerintah Selandia Baru juga pemerintah di sini meminta stop dan hapus video tersebut. Jangan dilihat. Jangan disebarkan. Tragedi ini cepat menyebar ke dunia maya karena si teroris sendiri sengaja menyiarkan aksi kejinya itu secara live di Facebook. Video ini viral dan beredar di grup Whatsapp dan berbagai platform media sosial.

Dalam video itu, korban bergelimpangan di lorong dan lantai masjid. Jamaah yang mencoba menghindar dari tembakan kabur dengan memecahkan pintu kaca. Teroris menembak acak orang yang ada di dalam masjid.

“Pelaku memegang senjata besar, dia datang dan menembak orang yang berada di masjid, di sudut mana saja,” ujar Ahmad Al-Mahmoud, salah satu saksi, seperti dikutip Reuters.com. Pemerintah Selandia Baru awalnya mengonfirmasikan 40 orang tewas. Dari 40 korban, 30 di antaranya tewas di masjid Al Noor di dekat Hagley Park, pusat Kota Christchurch. 10 lainnya tewas di Masjid Linwood, pinggiran kota. Sementara, 20 orang mengalami cedera.

Baca Juga : PKS Warning Pemerintah Sigap Amankan Laut Indonesia

“Ini salah satu hari tergelap bagi Selandia Baru,” ungkap Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Tak lama, Komisaris Polisi Mike Bush mengatakan, jumlah korban meninggal dunia akibat penembakan di dua masjid itu bertambah menjadi 49 orang. Bush juga menyebut, empat orang telah ditangkap. Tiga pria dan satu perempuan. Kepolisian Selandia Baru juga meminta para pengguna media sosial tidak melakukan penyebaran video penembakan ini.

“Kami benar-benar mendesak tidak melakukan penyebaran video pembantaian. Kami saat ini sedang berusaha menghapus rekaman-rekaman (take down) tersebut,” kata polisi Selandia Baru.

Jubir Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir menyebut, dua WNI terkena tembakan dalam pe- ristiwa biadab ini. “Ayah dan anak terkena tembak di masjid tersebut,” kata dia kepada wartawan, kemarin. Kondisi sang ayah saat ini berada di ICU Christchurch Public Hospital. Sementara sang anak dirawat di ruang biasa di rumah sakit yang sama.

Menlu Retno Marsudi sebelumnya menyatakan, ada enam WNI yang berada di lokasi penembakan di Masjid Al Noor, Christchurch. In- formasi tersebut dia dapat dari Du- bes Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya.

Baca Juga : Upadate Gempa Sulbar, Basarnas: 49 Jiwa Meninggal

Informasi yang ber- hasil dihimpun KBRI Wellington, pada pukul 23.30 waktu Selandia Baru disebutkan, dari enam WNI yang diketahui berada di Masjid Al- Noor saat kejadian penembakan, lima orang telah melaporkan ke KBRI Wellington dalam keadaan sehat dan selamat. Sementara, satu orang atas nama Muhammad Abdul Hamid masih belum diketahui keberadaannya.

Pihak Kepolisian Selandia Baru telah mengeluarkan informasi ter- dapat 49 korban tewas, 41 korban di Masjid Al-Noor, 7 korban di Masjid Linwood dan seorang meninggal di RS Christchurch Public Hospital.

KBRI juga mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh masyarakat WNI di Selandia Baru tetap tenang dan waspada, serta mematuhi imbauan dari pihak keamanan Selandia Baru.

Aksi brutal teroris di Selandia Baru mengundang simpati dari seluruh pemimpin dunia. Ada juga harapan agar video penembakan yang tersebar di media sosial itu distop. Menkominfo Rudiantara lewat akun Twitternya @rudiantara_id meng- imbau masyarakat Indonesia tak ikut menyebarkan atau memviralkan video aksi berdarah ini.

Baca Juga : Banjir Di Kalsel Rendam 7 Kabupaten-Kota

“Kami mengimbau agar masyarakat tidak ikut menyebarkan video atau tautan terhadap konten kekerasan yang brutal tersebut. Kominfo akan terus memantau dan mengupayakan dengan maksimal penepisannya,” kicau Rudiantara, kemarin.

Menurutnya, Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain telah bekerja sama melakukan penepisan konten tersebut. Kerja sama juga dilakukan dengan instansi pemerintah lainnya.

“Berkaitan dengan tragedi berdarah di Selandia Baru, dengan ini Kominfo menyampaikan bahwa sejak Jumat siang ini telah menepis video rekaman penembakan yang beredar di internet dan media sosial. Sudah sekitar 500 posting yang ditepis dari berbagai platform sampai sore ini,” cuitnya lagi. [FAQ]