RMco.id  Rakyat Merdeka - Kisruh politik di Malaysia tak kunjung usai. Usaha pemimpin oposisi Pakatan Harapan (PH) Anwar Ibrahim menumbangkan Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yassin masih berlanjut. Mantan PM Mahathir Mohamad pun lagi-lagi berusaha menjegal langkah mantan anak didiknya itu.

Dalam wawancara bersama Malaysian Insight yang dirilis pada Sabtu, 14 November 2020, Mahathir menilai, bahwa Anwar tidak akan bisa menjadi PM yang baik. Padahal, anggota parlemen dari langkawi itu pernah berjanji akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar, usai menang Pemilihan Raya ke-14 pada 9 Mei 2018. “Anwar tidak akan bisa menjadi PM yang baik, karena dia tidak melakukan tugasnya dengan benar dalam rentang waktu dua bulan pada 1997,” ujar Mahathir, merujuk pada Krisis Finansial Asia pada tahun tersebut.

Baca Juga : Terawan Terjelek, Ah, Sudah Biasa

Saat terjadi krisis kala itu, Mahathir cuti dari pekerjaannya selama dua bulan. Anwar, yang saat itu merupakan Wakil PM, menggantikan tugas Mahathir untuk sementara. Menurut Mahathir, performa Anwar saat menggantikannya tidak sesuai harapannya. “Saya menguji kemampuan nya saat saya masih menjadi perdana menteri. Saya berlibur selama dua bulan, dan Anwar mengambil alih kekuasaan. Kami sedang mengalami krisis ekonomi saat itu, dan kebijakan nya tidak membantu memulih kan kondisi finansial negara,” sebut Mahathir.

"Itulah mengapa saya harus mengambil alih tugas menteri keuangan dan mengusulkan rencanarencana untuk menyelamatkan negara dari krisis ekonomi. Saya tidak tahu bagaimana masyarakat melihat hal ini. Tapi sudah jelas, saat krisis finansial 1997, Anwar tidak mampu menanganinya,” sambung dia.

Baca Juga : Sedih Sih, Tapi Sabar Ya....

Pada 1997, Mahathir sempat berselisih paham dengan Anwar terkait penanganan krisis ekonomi. Saat itu, Anwar ngotot ingin menerima paket bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. “Dia selalu mengikuti Bank Dunia dan IMF. Saya telah mengatakan kepadanya, jika mengikuti saran mereka, negara kami tidak akan memiliki cukup dana bahkan untuk membayar gaji. Tapi dia terus mendukung mereka,” katanya.

Ketika Dr Mahathir kembali menjabat, dia mencabut beberapa keputusan Anwar dan meluncurkan paket kebijakan untuk melindungi malaysia, ter masuk mematok ringgit terhadap dolar AS. Malaysia dipuji secara global karena memimpin pemu lihan terkuat di antara negara-negara yang terkena dampak buruk krisis ekonomi.
 Selanjutnya