RMco.id  Rakyat Merdeka - Gempuran pandemi Covid-19 membuat banyak negara di dunia terpaksa melakukan pembatasan gerak dan penutupan wilayah/lockdown gelombang kedua dan ketiga. Sayangnya, penerapan lockdown ini berimbas pada pertumbuhan ekonomi daerah dan negara yang melakukan pembatasan.

Misalnya saja Jepang, yang tengah menghadapi gelombang ketiga pandemi Virus Corona, terpaksa melakukan lockdown di sejumlah daerah sejak Rabu (18/11). Pejabat setempat masih memantau perkembangan sebelum menetapkan restriksi.

Keputusan seperti ini dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2020. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi khawatir, langkah lockdown yang dilakukan sejumlah negara tersebut berdampak negatif pada perekonomian. Pasalnya, lockdown akan membuat pasokan rantai global menjadi terhambat. Perjalanan bisnis dan wisata pun tertunda karena adanya lockdown yang berulang. 

Berita Terkait : GTH 2020 Bahas Masa Depan Pasca Covid-19

"Proteksionisme yang berlanjut hanya akan menjadi penahan. Saya khawatir kita tidak bisa mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang baik," ujar Retno, dalam diskusi virtual bertajuk 'Global Town Hall: Around The World, Around The Clock', Jumat (20/11).

Diskusi yang diselenggarakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) selama seharian penuh ini membahas solusi menuju masa depan pasca pandemi Covid-19. Pada sesi diskusi, Retno menyatakan Indonesia harus bisa bekerja lebih keras lagi agar pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2020 membaik. Terlebih, pertumbuhan ekonomi Indonesa telah negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 terkontraksi hingga minus 5,32 persen. Pada kuartal III-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 3,49 persen. "Atas dasar itu, perlu lingkungan yang mendukung untuk mengembalikan aktivitas ekonomi kita tanpa menimbulkan risiko," papar Retno.

Berita Terkait : Menlu Retno Ingatkan 3 Tantangan Global Masa Kini

Demi menambah insentif pada pertumbuhan ekonomi, Retno menyebut Indonesia telah menyepakati kebijakan travel corridor dengan China, Korea Selatan, serta Uni Emirat Arab dalam rangka mendorong aktivitas ekonomi. Kesepakatan itu memungkinkan lalu lintas antar manusia antar negara dengan memperhatikan protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Virus Corona. 

Sekarang ini, lanjut Retno, Indonesia tengah bernegosiasi dengan Jepang untuk bisa menyepakati kebijakan travel corridor. Selain itu, Indonesia telah mengajukan kesepakatan yang sama terhadap negara-negara di ASEAN. "Para pemimpin di Asean pada 20 November 2020 akan mengadopsi ASEAN Declaration on an ASEAN Travel Corridor Arrangement (TCA) Framework," ujarnya.

Presiden Jokowi sebelumnya berharap agar pengaturan ASEAN TCA bisa segera diimplementasikan. Karenanya, Jokowi mendorong Dewan Koordinasi ASEAN dan Badan Sektoral ASEAN dapat merealisasikan pembentukan jalur cepat sementara (temporary fast lane) dan protokol kesehatan saat keberangkatan dan kedatangan. Dia juga ingin adanya pemanfaatan platform digital yang terintegrasi di kawasan. Kemudian, Presiden Jokowi ingin ada penentuan terhadap port of entry terkait ASEAN TCA. 

Berita Terkait : Mendagri Tito: Pemilihan Kepala Desa 2020 Ditunda

"Seperti yang diinginkan presiden. Diharapkan ASEAN TCA ini dapat segera dioperasionalisasikan pada kuartal pertama tahun depan. Rakyat kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi," beber Retno. "Kita bersama ingin melihat wilayah kita segera bangkit," tutupnya. [DAY]