RMco.id  Rakyat Merdeka - Kabar positif mengenai pencapaian proses pembuatan vaksin Virus Corona jangan sampai membuat masyarakat lengah.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut ancaman virus SARS CoV2 masih tetap ada.

"Jangan cepat puas dulu. Kita tetap harus waspada," ingat Tedros yang memberikan pidato pembuka dalam acara virtual Global Town Hall 2020 yang diadakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jumat (20/11).

Sejumlah penelitian pembuatan vaksin memang ada yang mengklaim efektivitas hingga 95 persen. Dia menyebut kalau semua negara jangan sambai abai dan mengenyampingkan kesehatan demi ekonomi.

Baca Juga : Inggris Bakal Haramkan Mobil Bensin Dan Diesel

"Ini akhirnya akan seperti memilih kekayaan atau nyawa," lanjutnya. "Covid-19 telah mengajarkan kita bahwa kesehatan bukan masalah harga, tapi investasi untuk kehidupan produktif dan ekonomi yang stabil," sambungnya.

Dia menyebut fokus pihaknya sekarang untuk akses mudah untuk vaksin. Menurutnya, vaksin harus dibagikan secara merata dan adil, terutama untuk negara-negara miskin dan berkembang.

Inilah yang menjadi dasar WHO bekerja sama dengan mitra internasional membuat akses perangkat akselerasi covid-19 dan fasilitas kerja sama vaksin (COVAX).

Langkah ini dibuat agar vaksin bisa dikembangkan dengan cepat dan dibagikan secara adil. "Terutama untuk para tenaga medis yang berada di garda depan," ungkapnya.

Baca Juga : Pertamina EP Dan Elnusa Tuntaskan Pasang SPM Sukowati Field

"Selamat juga untuk Indonesia yang telah bergabung dengan fasilitas COVAX. Semoga kerja sama vaksin yang terjangkau dan adil dapat semakin diperkuat," tandasnya.

Sementara itu, sejumlah perwakilan kesehatan dunia sepakat untuk tidak memonopoli akses kepada vaksin Virus Corona. Pasalnya, ada ketakutan kalau negara-negara dengan ekonomi kuat dan pendidikan maju dapat mengebut untuk mencari dan menciptakan vaksin untuk keperluan sendiri.

Direktur Kesehatan Global dari, Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris Darren Welch menyebut tujuan seperti itu malah membuat negara terlihat buruk.

"Sangat buruk kalau sampai ada yang berpikir untuk memonopili vaksin di tengah krisis global ini," ujarnya yang juga ikut hadir dalam Global Town Hall 2020.

Baca Juga : Satgas Covid: Warga Tebet, Petamburan, Dan Megamendung Harus Segera Tes PCR

Sementara itu, Direktur Russian Direct Investment Fund Vladimir Primak mengatakan kalau negara yang berhasil menciptakan vaksin bisa saja meras a bangga. Terlebih kalau vaksin buatan mereka ampuh dan aman.

"Tidak masalah kalau itu mau dijadikan prestise. Tapi bukan jadi alat monopoli, " tegasnya.

Perwakilan dari aliansi vaksin global menyebut WHO yakin vaksin Covid-19 tak akan menjadi alat politik. Ini terlihat dari program COVAX juga didukung banyak negara.

"Tanpa keraguan, vaksin akan menjadi hal yang paling kuat di pandemi ini, tetapi apa yang kami lihat, dukungan kepada COVAX adalah testimoni terbaik bahwa (vaksin) tak akan menjadi alat politik," tandas Elen Hoeg, Senior Manager pPlicy Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). [DAY]