RMco.id  Rakyat Merdeka - Di tengah derasnya arus informasi media sosial, kehadiran media arus utama (media mainstream) dapat menjadi benteng penyebaran berita hoaks atau informasi menyesatkan.

Apalagi di masa pandemi Covid-19, bila larut dalam info tersebut. Tak terbayangkan berapa jumlah orang menjadi korban karena abai terhadap bahaya penyakit yang belum ada obatnya itu.

Konferensi Global Kebebasan Pers yang diselenggarakan secara virtual oleh Kanada dan Botswana pada 16 November lalu menekankan, penting kebebasan pers. Sebab, pertama, media berperan sebagai pengawas jalannya pemerintahan. Dan kedua, media mengemban sebuah tanggung jawab publik yang tinggi terhadap kesehatan masyarakat.

Dari hal tersebut, tak hanya dapat mewujudkan demokrasi yang efektif, namun selama pandemi, kebebasan pers bisa menyelamatkan nyawa manusia.

Berita Terkait : Ke Puskesmas Cikarang Utara, Wapres Tinjau Simulasi Vaksin Covid-19

"Media yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab adalah senjata ampuh dalam memerangi Covid-19," terang Dubes Inggris untuk Indonesia merangkap Timor Leste itu.

"Dan selama pandemi ini, kebebasan pers adalah fondasi penting untuk keberhasilan kampanye kesehatan dan keselamatan publik," sambungnya, belum lama ini.

Terlepas dari adanya pandemi Covid-19 saat ini, kampanye pemerintah Inggris untuk kebebasan media terus dilanjutkan. Dia juga bilang, Inggris tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia untuk mempertahankan kebebasan media dan meningkatkan keselamatan jurnalis.

Dubes yang bisa berbahasa Indonesia itu menambahkan, akan segera meluncurkan serangkaian kegiatan webinar soal peran media mendukung langkah-langkah kesehatan masyarakat dan peluncuran vaksin.

Baca Juga : Menlu Retno Desak DK PBB Stop Kekerasan di Afghanistan

"Serta bagaimana media bisa memastikan pihak otoritas meningkatkan kualitas kerja serta melindungi masyarakat dari virus Covid-19," ujar mantan Perwakilan Khusus Perdana Menteri Inggris untuk Afghanistan dan Pakistan.

Lebih lanjut, kata Jenkins, Inggris adalah pelopor konferensi Kebebasan Media Global pertama di dunia tahun lalu. Dan menduduki posisi sebagai pemimpin Koalisi Kebebasan Media bersama Kanada.

Tahun ini, Kanada dan Botswana menjadi tuan rumah Konferensi Media Global kedua secara virtual. Para menteri dan peserta membahas berbagai masalah. Termasuk dampak Covid-19 pada kebebasan media dan mendesak pemerintah mengambil langkah menjamin kebebasan media dan keselamatan jurnalis.

"Para peserta juga meminta pemerintah menahan diri dalam memberlakukan pembatasan yang tidak semestinya dalam perang melawan Covid-19," terangnya.

Baca Juga : Dinas Pendidikan Pemkab Bogor Optimis, KBM Tatap Muka Dimulai Januari 2021

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab yang turut ambil bagian dalam acara itu, mengumumkan pemenang Penghargaan Kebebasan Media bersama Inggris-Kanada yang pertama.

Penghargaan itu diberikan kepada Asosiasi Jurnalis Belarus. Asosiasi Jurnalis Belarus (BAJ) telah bekerja selama 25 tahun. Dan merupakan satu-satunya serikat jurnalis independen di negara tersebut.

Menurut Raab, penting bagi jurnalis untuk dapat melaporkan dan menjelaskan apa yang sedang terjadi di mana pun mereka bekerja. Tanpa merasa takut akan adanya pembalasan, sensor atau hukuman.

Secara khusus, Raab memberikan penghormatan pada BAJ atas dedikasinya melaporkan pelanggaran HAM dan penipuan yang terjadi saat pemilu di Belarus. PYB