RMco.id  Rakyat Merdeka - Pasca teror penembakan, warga Selandia Baru menunjukkan watak aslinya: ramah dan penuh toleransi. Buktinya, beberapa hari terakhir umat Kristiani negeri itu berbondong ke masjid, menjagai sahabat muslim mereka yang salat.

Aksi menjaga muslim salat memang sedang tren di Selandia Baru. Diawali dari spontanitas warga yang berkerumun di masjid Selandia Baru, sehari pasca kejadian. Aksi itu diposting di dunia maya dan mendapatkan simpati dunia. Salah satunya beredar di jejaring Youtube dengan judul video Toleransi : Pasca Aksi Penembakan Saudara Non Muslim Menjaga Masjid New Zealand. Video ini diputar lebih dari 700 kali, dengan respon nyaris seluruhnya positif.

Di video itu, terekam umat Muslim sedang salat di masjid, sedang umat Kristiani ikut masuk ke masjid dan berjaga di bagian belakang shaft. Mereka dari kalangan usia, tua muda bahkan anak-anak, pria dan juga wanita.

Paling terkini, toleransi ditunjukkan geng motor paling gahar di sana, Waikato Mongrel Mob. Ketua geng, Sonny Fatu berjanji berjaga di luar Masjid Jamia di Hamilton, North Island ketika Muslim menunaikan salat.

Baca Juga : Real Madrid Vs Alaves : Awas, Keok Lagi!

“Kami bakal mendukung dan membantu saudara-saudari Muslim kami selama yang mereka butuhkan,” ujar Fatu, kemarin.

Fatu mengatakan, ada sejumlah umat Muslim di teritorialnya yang sedang ketakutan pasca penembakan yang dilakukan Brenton Tarrant (28) ke Masjid Al Noor dan Linwood saat Salat Jumat (15/3) lalu.

“Pertanyaan kemudian timbul apakah kami bisa terlibat dalam bagian keamanan untuk memastikan saudara kami yang Muslim bisa beribadah tanpa merasa takut,” kata Fatu.

Geng motor Mongrel Mob ini merupakan geng motor yang mempunyai 30 cabang seantero Selandia Baru. Mereka dianggap sebagai geng motor yang menakutkan, dengan Mirror memberitakan Mongrel Mob diaso- siasikan sebagai organisasi kriminal.

Baca Juga : Sehari Nambah 13.632, Kasus Positif Cetak Rekor Tertinggi Kedua

Tawaran Fatu disambut baik Presiden Asosiasi Muslim Waikato Asad Mohsin yang menjelaskan, dia tidak memandang Mongrel sebagai geng menakutkan.

“Kami memandang mereka sebagai manusia dan kami sangat menghargai apa yang mereka bisa berikan kepada kami,” ujar Mohsin.

Aksi menjaga masjid juga terjadi di Manchester, Inggris. Seorang pria bernama Andrew Graystone berdiri di depan masjid dekat tempat tinggalnya sambil membawa papan.

“Kalian adalah Temanku. Saya Bakal Berjaga ketika Kalian Menunaikan Salat”. Kemudian di Sunderland pengguna Twitter mengunggah sebuah gambar seorang pria membawa tulisan, “Orang Kristen ini menentang rasisme dan kekerasan terhadap Muslim”.

Baca Juga : Gempa Kepulauan Talaud, Lima Rumah Warga Dan Satu Gereja Rusak Ringan

Aksi simpatik juga dilakukan kaum hawa se-Selandia Baru yang menyebut diri Kiwis. Rencananya, besok, massa aksi akan menggunakan kerudung dan berkeliling jalan-jalan protokol. Aksi ini bertajuk, #headscardorharmony. Dalam aksinya nanti, kaum hawa di Selandia Baru diminta mengenakan kerudung dan berfoto bersama teman baik di tempat kerja, sekolah, atau tempat bermain. Kemudian, mereka diminta menyebar foto itu di media sosial dengan menyertakan tagar #head- scarfforharmony. Gerakan ini sebagai bentuk kepedulian Kiwis kepada umat Islam.

“Kami ingin menunjukkan cinta dan dukungan kami, serta duka kami karena kehilangan 50 ibu, ayah, anak, kolega dan teman-teman setelah serangan teroris pada Jumat lalu di Christchurch,” demikian Thaya Ashman, sang penggagas.

Para petinggi Dewan Muslimah Selandia Baru menyatakan gerakan ini sebagai sikap solidaritas dan dukungan yang sangat patut dihargai. Presiden Asosiasi Muslim Selandia Baru, Ikhlaq Kashkari, mengapresiasi dengan menyebut ini ide cemerlang. [BSH]