Pro-Israel

Trump Dihujat Erdogan

Presiden Turki Tayyip Erdogan. (Foto Reuters)
Klik untuk perbesar
Presiden Turki Tayyip Erdogan. (Foto Reuters)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat kontoversi. Setelah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, kini Trump mengakui Dataran Tinggi Golan milik Suriah sebagai wilayah negara zionis itu. Trump pun dihujat sana-sini. Termasuk oleh Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan.

Dataran Tinggi Golan sebelumnya merupakan bagian dari Suriah, yang diduduki Israel usai Perang Enam Hari pada 1967. Setelah merebut, penerapan hukum Israel kemudian diperluas di wilayah itu pada 1981, sebuah langkah yang sama dengan aneksasi atau pencaplokan. AS dan komunitas internasional telah lama menganggapnya sebagai wilayah Suriah di bawah pendudukan Israel.

Resolusi Dewan Keamanan PBB 497 tahun 1981 juga menegaskan Dataran Tinggi Golan merupakan milik Suriah. Namun, AS untuk pertama kalinyamemberikan suara menentang resolusi tahunan PBB yang mengecam kendali Israel atas Dataran Tinggi Golan pada bulan November. Secara keseluruhan, 151 negara memberikan dukungan, dan hanya Israel dan AS yang menentang. Dan tiba-tiba, Jumat lalu, Trump mengakui wilayah itu sebagai milik Israel.

“Setelah 52 tahun, ini waktunya Amerika Serikat untuk sepenuhnya mengakui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan,” kicau Trump di Twitternya.

Baca Juga : Wamen PUPR Keluhkan Pembangunan Di Daerah Lambat

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji langkah Trump. “Presiden Trump membuat sejarah dan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan,” katanya.

Sementara negara-negara lainnya, mengecam. Erdogan meradang. Dalam pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, dia menghujat Trump.

“Pernyataan tak pantas oleh Presiden Amerika Serikat tentang Dataran Tinggi Golan telah mendorong kawasan itu ke jurang krisis baru, ketegangan baru,” kecamnya.

Presiden Erdogan mengatakan OKI tak akan berpangku tangan menyaksikan insiden yang mengancam masa depan kemanusiaan dan dunia Islam.

Baca Juga : Toyota Sudah Siapkan Strategi Antisipasi Dampak Corona

“Kami tidak akan pernah membiarkan pendudukan Dataran Tinggi Golan menjadi legitimitas,” tegas Erdogan.

Terpisah, Jubir Kemenlu Iran Bahram Qasimi menegaskan, rezim Israel tak memiliki hak atas tanah Arab dan Muslim. Mereka adalah penjajah.

“Keputusan (AS) ini akan mengarah pada krisis baru di wilayah yang memang sudah rentan. Zona ini diakui sebagai wilayah pendudukan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB),” tegas Qashimi.

Sekjen Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat, juga mengecam Trump. Dalam sebuah tweet, Erekat mengklaim langkah itu akan menghasilkan destabilisasi dan pertumpahan darah regional.

Baca Juga : Wisata Komodo Jadi Primadona di Pameran Utazas Budapest

“Kemarin presiden Trump mengakui Baitul Maqdis (Yerusalem) sebagai ibu kota ‘Israel’. Hari ini untuk stabilitas regional ia ingin memastikan bahwa Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki berada di bawah kedaulatan ‘Israel’. Apa yang akan ia bawa besok? Destabilisasi dan pertumpahan darah di wilayah kami,” tulisnya.

Pemerintah Suriah juga mengutuk pernyataan Trump. Suriah murka. Negara ini pun bersumpah akan merebut kembali daerah itu dengan segala cara.

“Bangsa Suriah lebih bertekad untuk membebaskan sebidang tanah nasional Suriah yang berharga ini melalui segala cara,” tegas sumber Kemenlu Suriah dalam pernyataan yang diterbitkan kantor berita negara Suriah.

Uni Eropa turut menentang Trump. Presiden Dewan Eropa Jumat lalu menegaskan kembali sikapnya. Yakni, tidak mengakui Dataran Tinggi Golan di Suriah sebagai kedaulatan Israel.[OKT]