Pemilu Thailand

Partai Pro-Militer Menang, Diikuti Kubu Thaksin

Warga mengantre di TPS yang dijaga tentara, di Bangkok, 24 Maret. (Foto Reuters)
Klik untuk perbesar
Warga mengantre di TPS yang dijaga tentara, di Bangkok, 24 Maret. (Foto Reuters)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Partai pro-militer Palang Pracharat memimpin, diikuti Pheu Thai, partai oposisi loyalis mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra dalam pemilu 24 Maret lalu. Pesta demokrasi pertama setelah terjadi kudeta militer 2014.

Menurut hasil penghitungan 89 persen suara, Komisi Pemilihan Umum mengumumkan, Pracharat, yang mengusung petahana, PM junta Prayut Chan-o-cha berhasil meraup 7 juta suara. Sedangkan di posisi kedua, Pheu Thai dengan 6,6 juta suara. Pheu Thai telah memenangkan setiap pemilihan sejak 2001. Sementara itu, partai baru Future Forward mendapat memiliki 4,31 juta suara.

Berita Terkait : PPP Mau Ganti Stigma Bukan Partai Orang Tua

Pemilu kali ini terlaksana setelah tertunda beberapa kali dan digelar di bawah konstitusi baru yang dirancang junta militer. Sebanyak 51 juta orang yang memenuhi syarat diharapkan memberikan suaranya. Sementara 2,2 juta lainnya telah memberikan suara pada akhir pekan lalu setelah memilih untuk mencoblos lebih awal.

Sebanyak 93.200 TPS di 77 provinsi dibuka di Thailand mu­lai pukul 8 pagi dan selesai pukul 5 petang. Hasil pemilu paling cepat tiga jam usai TPS ditutup. 80 partai politik berjuang mem­perebutkan 500 kursi majelis rendah (DPR). Ribuan kandidat yang berjuang untuk mewakili 350 daerah pemilihan. Adapun 150 anggota DPR lainnya akan dipilih melalui daftar partai nasional, di bawah sistem perwakilan proporsional.

Baca Juga : Atalanta Ngamuk, Sampdoria-Genoa Tertunda Corona

Berdasarkan konstitusi baru yang dibuat militer, nantinya, 500 anggota parlemen terpilih dan 250 anggota senat yang dipilih pemerintah (junta militer) akan melakukan pemungutan suara untuk memilih perdana menteri. Seorang calon PM Thailand harus disetujui lebih dari setengah gabungan 750 anggota. Alhasil, sebuah partai politik memerlukan 375 suara dalam pemilihan bersama, baik dari majelis tinggi maupun majelis rendah. Dengan begitu, kadidatnya dapat memenangkan jabatan PM Thailand dan segera membentuk pemerintahan.

Dibandingkan dengan partai-partai lain, Partai Palang Pracharat memiliki keuntungan dalam pesta demokrasi saat ini. Sebab, 250 senator akan dipilih Dewan Nasional untuk Perdamaian dan Ketertiban (NCPO), termasuk Prayut. Itu artinya, Partai Palang Pracharat berada dalam posisi yang dapat membentuk pemerintahan. Sekalipun hanya memenangkan minimal 126 suara dari 500 kursi parlemen yang diperebutkan.

Baca Juga : Gondol Piala Liga Inggris, Guardiola : Ini Luar Biasa

Pencalonan Prayut dipandang sebagai upaya militer untuk mempertahankan genggamannya pada politik Thailand. Pria berusia 65 tahun itu popular di kalangan masyarakat tertentu yang berpihak pada kekuasaan militer. Kalangan tersebut memandang pemerintahannya dapat menjembatani perpecahan sosial-politik yang mendalam pasca pemerintahan Yingluck.

Seperti diketahui, Yingluck dan saudara lelakinya, Thaksin Shinawatra, berada di pengasingan luar negeri. Akan tetapi, keduanya masih memiliki pengaruh besar terhadap sebagian besar penduduk Thailand, terutama di wilayah perdesaan. Thailand berada di bawah kekuasaan militer sejak panglima militer Prayut menggulingkan pemerintah Yingluck terpilih pada 2014.[MEL]