RMco.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengumumkan kebijakan lockdown selama 14 hari di Kuala Lumpur dan lima negara bagian, menyusul kian tingginya jumlah kasus Covid-19 yang mengancam sistem layanan kesehatan negara tersebut. Rumah sakit (RS) setempat mulai kewalahan.

Aturan yang berlaku mulai Rabu (13/1) tengah malam itu melarang semua kegiatan sosial, dan perjalanan antarnegara bagian.

Berita Terkait : PM Muhyiddin Pastikan Tak Ada Jam Malam, Layanan Publik Tetap Seperti Biasa

Namun, bisnis di lima sektor ekonomi esensial yang melibatkan pabrik dan manufaktur, konstruksi, jasa, perdagangan dan distribusi serta sektor perkebunan dan komoditas masih dapat beroperasi. Tentunya, dengan kapasitas yang berkurang.

Supermarket, bank, dan klinik kesehatan tetap buka. Sedangkan restoran hanya menawarkan layanan antar-jemput.

Berita Terkait : Malaysia Terapkan Status Darurat Nasional Covid-19

Malaysia adalah salah satu negara pertama yang menerapkan lockdown untuk menekan laju penyebaran Covid pada Maret 2020, di masa awal pandemi. Namun, pembatasan tersebut berujung pada kontraksi ekonomi pada kuartal kedua tahun 2020. Kontraksi tersebut adalah yang pertama dialami Malaysia, dalam 10 tahun terakhir.

Pejabat Kesehatan setempat mengatakan, gelombang Covid saat ini yang dimulai pada September 2020, dapat mendongkrak jumlah kasus harian menjadi 8.000 pada Mei mendatang, jika lockdown tidak diberlakukan.

Berita Terkait : Menteri Ekonomi Malaysia Kena Corona

"Dalam hal ini, sistem layanan kesehatan.adalah fokus utama kami," kata Muhyiddin dalam pidato yang disiarkan secara langsung di sejumlah stasiun TV, Senin (11/1). 
 Selanjutnya