RMco.id  Rakyat Merdeka - Masa kecil dan muda, jadi waktu yang tepat untuk membentuk jati diri Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika Al Busyra Basnur. Di masa inilah, Al, sapaan akrabnya, terbentuk hingga bisa menjadi seorang diplomat di Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

Pada webinar yang diselenggarakan Universitas Baiturrahmah Padang (Unbrah), Sumatera Barat, Al bercerita masa kecilnya dari mulai trmpatnya lahir di sebuah desa kecil. Dan hingga saat ini, Al masih menganggap dirinya sebagai orang dari kampung.

"Bahkan bisa dibilang sangat kampung. Saya berasal dari Nagari Anding, di Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota," terang Al, dalam diskusi bertajuk "Kisah Sukses Anak Kampung Menjadi Seorang Duta Besar" itu.

Dubes Al menyebut, Anding termasuk desa kecil. Bahkan baru dimasuki kendaraan roda empat sekitar tahun 1972-1973. Itu kira-kira pada waktu dia berada di kelas lima atau kelas enam Sekolah Dasar (SD). Saat itu adalah pertama kalinya dia melihat mobil melintas di depan rumahnya. Dan, mobil yang masuk ke desanya tidak melalui jembatan yang baru dibangun. Tapi menyebrangi sungai yang bernama Batang Sinamar.

Baca Juga : BNPB Minta Kelompok Rentan Dipisah Di Pengungsian Gempa Sulbar

"Saya mengakui bahwa saya benar-benar orang kampung. Yang jalan hidupnya bisa seperti ini. Dan tentunya Ini semua karena adanya motivasi dalam diri saya," ujarnnya.

Pada diskusi itu, dia menampilkan sejumlah foto dari kampungnya. Mulai dari rumahnya di Anding yang bentuknya masih rumah ada tradisional Minangkabau, Rumah Gadang. Dan persis di sebelahnya ada madrasah yang bangun ibunya. Tempat d imana ibunya dulu juga mengajar.

Dulu, lanjutnya, bangunannya dari kayu. Dan sekarang sudah dibangun lebih baik. Dan hingga saat ini, meski dari jarak jauh, dia tetap memimpin madrasah itu. Dia bilang, madrasah itu hingga kini tidak memungut bayaran dari para siswanya.

"Karena Ibu saya selalu mengingatkan bahwa agama tidak boleh dicampuradukkan dengan bisnis," ucapnya.

Baca Juga : Akhirnya, Jaringan Listrik Terdampak Gempa Di Mamuju Normal Lagi

Masih dalam foto yang ditampilkannya, di sebelah madrasah itu ada musholla. Yang dia mulai pembangunannya pada 1993. Saat itu Al sudah bekerja di Kemlu. Tepatnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila, Filipina.

Setelah diawali olehnya, pembangunan dilanjutkan secara swadaya oleh masyarakat. Sebagai anak yang tinggal di kampung, ada sejumlah pekerjaan rumah rutin yang dilakukannya. Salah satunya mengambil air dari mata air, mencuci pakaian, hingga menumbuk cabe. Semua pekerjaan rumah harus dilakukannya. Karena dia adalah anak satu-satunya di rumah. Kakaknya sudah merantau untuk sekolah.

Dari semuanya, Al mengambil beberapa catatan penting yang harus diingat. Yang pertama adalah berkomitmen bahwa hidup harus berubah. Kedua, ibadah dan pendidikan agama. "Hal itu sangat berperan penting dalam kehidupan saya dari kecil," tuturnya.

Ketiga, hormat dan patuh pada orang tua. Kata dia, sifat itu ditanamkan dalam dirinya sejak dulu. Keempat, doa dari orang tua dan keluarga. Dari istri dan anak. Gabungan kekuatan doa itu, menurutnya, sangat berpengaruh luar biasa. Kelima, belajar dengan tekun. Hal itu kata dia memang wajib dilakukan.

Baca Juga : Banjir Di Kalbar, PLN Berhasil Operasikan Kembali 23 Gardu Terdampak

Keenam, mau melihat, mendengar dan membaca. Dan ketujuh, berani mengkhayal dan bercita-cita tinggi. "Kisah nyata. Dulu saya sering bilang ke ibu saya, ingin keliling dunia. Dan sekarang, sebagian sudah saya kunjungi," ucapnya.

Catatan penting dari Dubes Al yang terakhir adalah banyak teman. Dia bersyukur, sejak kecil sudah memiliki banyak teman. Apalagi, sejak bertugas sebagai diplomat. "Di tempat-tempat saya pernah bertugas, saya selalu memiliki banyak teman," tandasnya. [PYB]