New York Perangi Wabah Campak Global

Bocah Tak Divaksin Dilarang Berada Di Tempat Umum

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat, khususnya New York City tengah memerangi wabah campak yang berpotensi mematikan. Salah satu wilayah di pinggiran kota itu bahkan melarang anak-anak yang tidak divaksin dari ruang publik, seperti sekolah dan pusat perbelanjaan.

Rockland County menyatakan keadaan darurat pada Selasa (26/1) waktu setempat. Larangan berlaku selama 30 hari atau sampai anak-anak yang tidak divaksinasi mendapatkan suntikan campak, gondok dan rubela (MMR). Pengumuman Rockland menyusul wabah campak melanda California, Illinois, Texas dan Washington.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS kejadian tersebut bagian dari kebangkitan global infeksi virus.

"Kami tidak akan duduk diam sementara anak-anak di komunitas kami dalam risiko," kata County Executive Ed Day dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga : KPK Bertepuk Sebelah Tangan

"Ini adalah krisis kesehatan masyarakat, dan sekarang saatnya untuk membunyikan alarm."

Ada 153 kasus campak yang dikonfirmasi di Rockland County, sekitar 18 km utara Manhattan. Sebagian besar anak-anak belum divaksinasi.

Larangan ke tempat umum dimulai pada tengah malam. Anak-anak yang belum divaksinasi tidak akan diizinkan di lokasi seperti tempat ibadah, sekolah dan pusat perbelanjaan. Ruang terbuka seperti taman bermain tidak termasuk dalam larangan ini. Orang yang secara medis tidak bisa mendapatkan vaksinasi juga mendapat pengecualian.

Dilansir Reuters, wabah itu bermula ketika seseorang mengunjungi Israel dan kembali ke lingkungan yang didominasi kaum ultra-Ortodoks Yahudi di Rockland County. Setidaknya 181 kasus campak dikonfirmasi di wilayah New York di Brooklyn dan Queens sejak Oktober. Menurut departemen kesehatan kota, sebagian besar menjangkiti orang-orang Yahudi Ortodoks.

Baca Juga : Selama Natal dan Tahun Baru, Pertamina Kasih Diskon Avtur 20 Persen

Dikatakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, infeksi dimulai ketika para pelancong pergi ke Israel dan Ukraina kemudian kembali ke AS. Ke tempat-tempat di mana tingkat vaksinasi sangat rendah menurut standar kesehatan masyarakat AS. "Strain D8 dalam wabah Washington cocok dengan strain dari wabah Eropa Timur yang sedang berlangsung. Ini konsisten dengan pengujian dari kasus yang diketahui pertama (seorang anak) dari wabah. Semua kasus kami cocok dengan strain ini," tulis pernyataan Departemen Luar Negeri Washington Kesehatan.

Campak adalah virus menular yang menyebar lewat udara, bisa melalui batuk dan bersin. Gejala seperti demam tinggi, ruam di seluruh tubuh, hidung tersumbat dan mata memerah biasanya hilang tanpa pengobatan dalam dua atau tiga pekan. Namun satu atau dua dari setiap 1.000 anak yang terkena campak akan meninggal karena komplikasi.

Penyakit ini telah menyebar sebagian besar di antara anak-anak usia sekolah yang orang tuanya menolak untuk mendapatkan vaksinasi, mengutip alasan-alasan seperti keyakinan filosofis atau agama, atau kekhawatiran bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme, kata pihak berwenang. Studi ilmiah telah menunjukkan, tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme.

Para pejabat mengatakan wabah campak menawarkan pelajaran tentang pentingnya mempertahankan tingkat imunisasi komunitas minimal 95 persen demi mencegah penyakit berbahaya seperti campak.

Baca Juga : Arsenal Menang, Aubameyang Dekati Top Skor

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, jumlah kasus wabah campak di seluruh dunia pada tahun ini melonjak sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. WHO menyebut, upaya menghentikan penyebaran campak telah mengalami kemunduran. Badan Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, tren kasus campak kembali terjadi di tingkat global. Terutama di negara-negara kaya, di mana cakupan vaksinasi cukup tinggi. Setiap negara diberikan tenggat waktu hingga April untuk melaporkan kasus campak, agar tercatat di WHO. Sejauh ini, laporan yang diterima yakni terdapat 229 ribu kasus. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pada 2017 yang jumlahnya 170 ribu kasus. [MEL]