India Mulai Pemilu Akbar, 900 Juta Orang Nyoblos

Panitia pelaksana pemilu di Hiderabad, India, menyiapkan segala kelengkapan logistik, Selasa (9/4), 
jelang pemilu dimulai. (AFP Photo).
Klik untuk perbesar
Panitia pelaksana pemilu di Hiderabad, India, menyiapkan segala kelengkapan logistik, Selasa (9/4), jelang pemilu dimulai. (AFP Photo).

RMco.id  Rakyat Merdeka - India melaksanakan pemilu paling akbar di muka bumi, hari ini. 900 juta pemilih dari 29 negara bagian dan tujuh wilayah persatuan memberikan hak suara mereka.

Pesta demokrasi ini akan diikuti 10 persen penduduk dunia. Ini merupakan pesta demokrasi terbesar dalam sejarah manusia.

India pertama kali menggelar pemilihan umum pada 1951-1952 tak lama setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1947.

Bukan hanya dari jumlah pemilihnya saja yang besar, dari durasi proses pencoblosan juga terlama di dunia. Pemilu di Negeri Gangga ini berlangsung dalam tujuh putaran. Pemilu dimulai 11 April dan baru akan selesai pada 23 Mei nanti. Tiap putaran akan melibatkan pemilih dari beberapa negara bagian yang berbeda.

Baca Juga : Cegah Virus Corona, Jokowi: Cek Setiap Orang yang Datang dari Luar Negeri

Alasan lamanya proses pemilu ini karena minimnya alat pemungutan suara elektronik milik pemerintah, yang hanya berjumlah sekitar 1,1 juta. Karena itulah, pemilu diselenggarakan dalam tujuh putaran. Sebab, piranti votingnya juga bergantian.

Para pemilik suara akan memilih wakil mereka di parlemen. Mereka akan menentukan apakah Perdana Menteri Narendra Modi akan mendapat mandat lima tahunnya yang baru. Sejauh ini Modi dan Bharatiya Janata Party (BJP) masih unggul. Modi masih populer.

Demikian juga partai yang dia pimpin. Salah satu janji Modi saat menang pemilu lima tahun lalu adalah memperbaiki perekonomian India. Memang selama pemerintahan Modi, pertumbuhan ekonomi India mencapai 7 persen dan beberapa kebijakan ekonominya mendapat pujian.

Di sisi lain, beberapa kebijakan Modi dianggap gagal, salah satunya adalah penarikan uang kertas besar-besaran pada 2016.

Baca Juga : Jokowi: Data Lebih Berharga dari Minyak

Saat ini penduduk India berjumlah 1,34 miliar orang dan jutaan orang sudah berhasil melepaskan diri dari kemiskinan. Menurut World Bank, jumlah warga India yang hidup di bawah garis kemiskinan menurun dari 21,6 persen pada 2011 menjadi 13,4 persen pada 2015. Namun, angka pengangguran masih menjadi keprihatinan terutama karena sebagian besar penganggur adalah para pemuda.

Menurut data pemerintah pada Januari lalu angka pengangguran mencapai 6,1 persen yang merupakan angka tertinggi sejak 1972-1973.

Selain itu, satu dari lima warga berusia 15-29 tahun tidak bisa mendapatkan pekerjaan alias pengangguran.

Masalah lain adalah anjloknya harga hasil pertanian yang membuat para petani marah. Kondisi ini disebabkan semakin berkurangnya cadangan air serta kekeringan yang berkepanjangan beberapa tahun terakhir ini.

Baca Juga : KBRI Bangkok Gelar Batik Workshop

Tantangan lain bagi pemenang pemilu nanti adalah memelihara hubungan dengan Pakistan. India dan Pakistan, yang sama-sama memiliki senjata nuklir, sudah tiga kali berperang sejak 1947. Salah satu sengketa utama adalah perebutan dominasi di wilayah Kashmir. Belum lama ini kedua negara nyaris berperang setelah sempat saling menggelar serangan udara.

Rival utama BJP, Partai Kongres Nasional, yang merupakan kekuatan utama oposisi, juga makin disukai. Rahul Gandhi, penerus dinasti politik Jawaharal Nehru, terus panen dukungan lewat kampanye ekonomi. Seperti menjanjikan ketersediaan lapangan kerja. [DAY]