Museum Jakarta Suguhkan Keseruan Virtual Reality Perjalanan Islam Di Australia

Klik untuk perbesar
CEO Islamic Museum of Australia Ali Fahour (tengah) dan Dubes Gary Quinlan (kiri) serta Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Edy Junaedi melakukan gunting pita di Museum Jakarta, kemarin. (Foto : Kedubes Australia).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Islamic Museum of Australia menggandeng Museum Jakarta menggelar pameran foto mengenai kisah lengkap perjalanan Islam di Australia. Untuk lebih merasakannya pengunjung dapat memanfaatkan teknologi virtual reality.

Virtual ini kan (seperti) nyata. Jadi bisa melihat dari berbagai dimensi, dari beberapa sisi bagaimana Islam masuk ke Australia. Pameran memberikan informasi tentang bagaimana Islam telah berkembang di Australia selama lebih dari 200 tahun terakhir.

Dimulai dari kedatangan masyarakat Makassar yang berdagang tripang dengan penduduk asli Yolngu di Aus- tralia utara dan penunggang unta dari Asia Selatan yang membantu mengembangkan pedalaman Australia, hingga imigran dari seluruh negara yang menjadikan Australia sebagai rumah mereka hari ini. Pameran bertajuk Boundless Plains: The Australian Muslim Connection, kemarin resmi dibuka hingga 30 April. Pengunjung tidak dipungut biaya.

Baca Juga : Situasi Darurat, DPR Siap Tambah Anggaran ‚ÄéKementan untuk Cegah Virus ASF

Peresmian berlangsung kemarin. CEO Islamic Museum of Australia Ali Fahour dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan serta Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Edy Junaedi melakukan gunting pita oranye. Dengan posisinya, Fahour berada di tengah, sedangkan di kiri Quinlan dan Edy di kanan.

Mereka tampak sumringah peresmian telah dilakukan. “Islam adalah agama besar di Australia dan berkembang pesat dengan laju sekitar 20 persen,” kata Dubes Quinlan.

“Pameran ini menyoroti bahwa Australia, sama seperti Indonesia, memperoleh banyak kekuatan dari masyarakat multi agama dan multikulturalnya. Lebih dari sebelumnya, kita perlu mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan membangun hubungan antara komunitas-komunitas kita, dan terutama komunitas agama kita,” imbuhnya.

Baca Juga : Akan Evaluasi KPK, Jokowi: Agar Tidak Sporadis

Kepala Unit Pengelola Muse- um Sejarah Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati senang, Museum Sejarah Jakarta dapat berkolaborasi dengan Islamic Museum of Australia dan Kedutaan Besar Australia menggelar pameran tersebut.

“Saya berharap pameran ini akan menciptakan peluang lebih lanjut untuk kemitraan budaya dan pariwisata antara dua negara kita,” pungkasnya.

Didirikan pada 2010 sebagai museum komunitas nirlaba di Melbourne, Islamic Museum of Australia menampilkan warisan artistik yang kaya dan sumbangsih sejarah umat Muslim di Australia dan luar negeri. [MEL]