Akihito Turun, Naruhito Naik

Suksesi Kaisar Jepang Terasa Kebarat-baratan

Kaisar Jepang Naruhito (depan), Permaisuri Masako (kanan), Putra Mahkota Akishino dan Putri Mahkota Kiko menghadiri ritual “Kenki-to-Shokei-no-gi” atau upacara untuk menerima warisan regalia dan stempel kerajaan di Istana kekaisaran di Tokyo, Jepang, 1 Mei 2019. (Foto Kyodo via Reuters)
Klik untuk perbesar
Kaisar Jepang Naruhito (depan), Permaisuri Masako (kanan), Putra Mahkota Akishino dan Putri Mahkota Kiko menghadiri ritual “Kenki-to-Shokei-no-gi” atau upacara untuk menerima warisan regalia dan stempel kerajaan di Istana kekaisaran di Tokyo, Jepang, 1 Mei 2019. (Foto Kyodo via Reuters)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Suksesi Kaisar Jepang, dari Akihito ke Naruhito terasa kebarat-baratan. Tidak hanya prosesinya yang terkesan Eropa klasik, sosok Naruhito juga tidak kalah baratnya. Dia lulusan Oxford, Inggris, sekaligus pemain biola.

Dikutip dari japantoday.com, kemarin, Naruhito yang kini berusia 59 tahun bergelar Kaisar setelah melakoni prosesi kenaikan tahta yang digelar, kemarin. Acaranya berlangsung singkat dan sederhana, tapi tetap sesuai pakem tradisi. Di antaranya, tak dihadiri  istri dan perempuan anggota kerajaan lainnya. Kaisar Akihito didampingi dua saudara laki-lakinya.

Tradisi lama yang juga dilakukan adalah penyerahan tiga benda pusaka Jepang seperti samurai, permata dan cermin. Ketiga benda itu kemudian ditaruh di Aula Pinus alias “Matsu-no- Ma”, sebuah ruangan paling mewah di dalam Istana. Sementara, gaya berpakaian Naruhito jadi sorotan. Dia tampil tanpa pakaian kebesaran, malah menggunakan jas hitam berbuntut khas Eropa. Keluarga Naruhito pun demikian. Hanya pengabdi kerajaan saja yang terlihat menggunakan baju Jepang.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Di sela-sela prosesi kenaikan tahta, Naruhito mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya atas dedikasi mereka selama 30 tahun. Dia akan sungguh-sungguh menjalankan tugas kekaisaran yang sekarang dibebankan padanya.

“Saya berjanji akan selalu memprioritaskan masyarakat Jepang dan dekat dengan mereka. Saya berjanji akan memenuhi tugas sebagai simbol negara dan persatuan masyarakat Jepang sesuai dengan konstitusi,” kata Naruhito sambil tersenyum.

Naruhito mendoakan agar kebaha- giaan menyelimuti seluruh masyarakat dan kemajuan demi kemajuan diciptakan Jepang serta dunia yang damai.

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

Kaisar Jepang pun telah berganti, Akihito yang kini berusia 85 tahun memilih mundur dari singgasana lantaran sakit. Diberitakan, Akihito tengah berjuang melawan kanker prostat dan sakit jantung.

Di luar itu, Naruhito dikenal cukup kritis. Dia tidak malu mengkritik gaya hidup mewah kalangan bangsawan, terutama saat istrinya, Masako, berjuang untuk beradaptasi dengan kehidupan kekaisaran.

Dilahirkan 23 Februari 1960, Naruhito adalah pangeran Jepang pertama yang tumbuh di bawah atap yang sama dengan orang tua dan saudara kandungnya. Sementara, anak-anak kerajaan sebelumnya dibesarkan pengasuh dan guru. Dia belajar selama dua tahun di Universitas Oxford, Inggris. Naruhito juga mampu beradaptasi tanpa memamerkan identitas darah birunya, bergaul baik dengan siswa lain sampai keluarga Kerajaan Inggris. Dia juga bermain musik orkestra dengan main biola.

Baca Juga : Indonesia Genjot Kunjungan Wisman dari Prancis

Pada tahun 1993, Naruhito menikahi Masako Owada. Masako meninggalkan karier diplomatik yang menjanjikan, untuk menikah dengan keluarga kerajaan.[BSH]