Duta Besar China Untuk Indonesia Xiao Qian

Gelar Buka Puasa Di Ponpes Luhur al-Tsafaqah

Dubes Xiao Qian (kiri) dibantu Said Aqil (tengah) menyerahkan 
santunan kepada para santri di Ponpes Luhur al-Tsafaqah. (Foto : Istimewa).
Klik untuk perbesar
Dubes Xiao Qian (kiri) dibantu Said Aqil (tengah) menyerahkan santunan kepada para santri di Ponpes Luhur al-Tsafaqah. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sudah menjadi kebiasaan tahunan, Kedutaan Besar China di Jakarta mengadakan acara buka bersama santri pondok pesantren dan anak yatim. Ramadan kali ini, Duta Besar China Xiao Qian menyambangi Pondok Pesantren Luhur al-Tsafaqah, Jagakarsa, Jakarta, Kamis (9/5), untuk buka bersama.

Dubes Xiao mengenakan batik sutra berjalan didampingi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. “Terima kasih telah menerima kedatangan kami. Ini merupakan kegiatan rutin kami di setiap Ramadan. Berbagi kasih dan kebahagiaan,” ujar Dubes Xiao, Kamis malam (9/5).

Baca Juga : Freeport Rogoh Rp 1,4 Triliun Bayar Tunggakan Pajak Air

Sebelum Dubes Xiao dan Said Aqil menuju panggung acara untuk mendengarkan ceramah tujuh menit, para santri mengantre untuk menyalami mereka. Dubes Xiao dengan sumringah menyapa para santri. “Belajar yang giat. Nanti lanjut sekolah di China ya. Sekolah di sana bagus-bagus,” ujar Xiao sambil promosi.

Acara bukber ini tidak hanya menjadi kegiatan silaturahmi Dubes Xiao dengan para santri. Dia juga menyerahkan santunan dari pihak Kedutaan Besar untuk para santri dan anak yatim di sana. “Semoga lancar ibadahnya sampai Hari Raya nanti. Belajar yang tekun,” ingatnya kepada para santri.

Baca Juga : Smelter Freeport Gresik Akan Dibangun 2023

Dalam pidatonya, Dubes Xiao tidak lupa menyampaikan informasi beasiswa untuk putra-putri Indonesia. “Kami akan terus menyediakan beasiswa kepada PBNU. Yang berminat untuk berkuliah ke sana bisa kabarkan kami dan kami bersedia memberikan bantuan,” tuturnya.

Said Aqil Siroj menjelaskan ada antusiasme santri untuk belajar Bahasa Mandarin. Menurutnya, berdasarkan aspirasi para santri, Bahasa Mandarin harus masuk sebagai mata pelajaran untuk para santri, menyusul bahasa-bahasa asing lain yang sudah lebih dulu seperti Bahasa Inggris, Prancis, dan tentu saja Arab. [DAY]