RMco.id  Rakyat Merdeka - Ratusan warga Sri Lanka di Jakarta merayakan bersama Hari Raya Waisak di Kedutaan Besar Sri Lanka, Menteng, Jakarta, Sabtu (18/5).

Mereka berkumpul menyalakan lilin sebagai simbol persatuan negaranya. Peringatan rutin tahunan ini, tidak hanya dihadiri penganut Budha, tetapi juga komunitas Hindhu, Kristen dan Islam. Namun, semuanya kompak berpakaian serba putih dan mengikuti prosesi berdoa.

Peringatan Hari Raya Waisak di Kedutaan Besar Sri Lanka di Indonesia (Foto : Liputan6.com)

Suasana khidmat sangat terasa karena para tamu sengaja tidak berbicara dan membiarkan lantunan pembacaan kitab suci oleh Maha Sanga terdengar hingga sudut ruangan Kedubes.

“Setiap tahunnya, kami berkumpul dan berdoa bersama. Kami memohon perlindungan untuk kami, keluarga kami dan seluruh teman kami,” ujar Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia Dharshana M Perera.

Berita Terkait : Kecam Parodi Hina Lagu Indonesia Raya, Malaysia Lakukan Investigasi

Seperti biasa, Dubes Perera tidak pernah mau menjadi pusat perhatian di perayaan Waisak. Dia mau memberikan kesempatan bagi semua orang beribadah dengan tenang tanpa harus mencari tuan rumah.

“Ini adalah momen sakral. Kami hanya menyediakan lokasi beribadah. Kami pun fokus berdoa, tidak lebih dari itu,” sambungnya.

Selama hampir satu jam, barisan tamu yang hadir pun terus bertambah. Ada juga yang membawa makanan untuk dimakan bersama usai berdoa bersama.

“Waisak itu adalah festival yang sangat penting. Acara hari ini juga sangat spesial karena komunitas Sri Lanka di Jakarta datang untuk ikut merayakannya.

Baca Juga : Klaster Keluarga DKI Terus Meroket

Selain umat Budha, kegiatan ini juga dihadiri komunitas Hindu, Kristen dan Muslim. Jadi, perayaan hari ini adalah perayaan dari keberagaman di Sri Lanka,” jelas Dubes Parera.

Dia menjelaskan, bahkan dalam satu ritual Waisak yaitu menyalakan cahaya yang berarti membuka cahaya kehidupan, merupakan simbol penting dari budaya persatuan Sri Lanka dengan masyarakatnya dari berbagai latar belakang suku dan agama.

“Jika tadi Anda melihat ritual menyalakan lilin kecil di pintu depan, itu adalah dimaksudkan untuk membuka cahaya kehidupan. Ini adalah simbol cahaya kehidupan,” terangnya.

Setiap orang yang menyalakan lilin, maka satu doa kedamaian dipanjatkan. Dubes Parera berharap negaranya kembali damai dan bangkit dari kengerian teror serangan bom Paskah pada 21 April lalu.

Baca Juga : PUPR Gandeng BPKP Audit Pekerjaan Venue PON XX Papua

“Sri Lanka kini sudah mulai pulih. Kami mulai bekerja, anak-anak mulai berani sekolah. Kami berharap tidak ada lagi serangan seperti Paskah di Sri Lanka dan di negara manapun,” harap sang dubes.

Di prosesi berdoa bersama, Maha Sanga juga mengajak para tamu untuk mendoakan jiwa para korban yang tewas dalam serangan bom Paskah. “Beliau (Maha Sanga) mengharapkan jiwa-jiwa itu dalam perjalanannya yang damai, dalam perjalanan Sansar yang dikenal oleh umat Buddha,” tandasnya. [DAY]