18 Jam Berpuasa, WNI di Kopenhagen Tetap Semangat

Dubes Indonesia untuk Denmark M Ibnu Said (berpeci hitam) bersama anak-anak peserta pesantren kilat di KBRI Kopenhagen, Denmark. (Foto: KBRI Kopenhagen)
Klik untuk perbesar
Dubes Indonesia untuk Denmark M Ibnu Said (berpeci hitam) bersama anak-anak peserta pesantren kilat di KBRI Kopenhagen, Denmark. (Foto: KBRI Kopenhagen)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski jauh dari Tanah Air dan harus menjalani waktu berpuasa yang relatif lama, 18 jam, masyarakat Indonesia di Kopenhagen, Denmark tetap antusias menjalani ibadah di Bulan Suci Ramadhan.

Mereka pun tampak bersemangat menghadiri acara Buka Puasa dan Tarawih Bersama di KBRI Kopenhagen.  untuk datang berbuka puasa dan tarawih bersama di KBRI.

Berita Terkait : Ragam Budaya Indonesia Pukau Pengunjung Pameran Wisata Terbesar Skandinavia

"Puasa Ramadhan di Denmark pada tahun ini, memang cukup panjang waktunya. Sampai 18 jam. Karena itu, acara Buka Puasa Bersama ini sangat dinanti warga Indonesia di sini. Apalagi, acara ini juga bermanfaat untuk mempererat tali silaturahmi antar warga Indonesia yang tinggal di Denmark, terutama Kopenhagen dan sekitarnya,” ungkap Duta Besar RI untuk Denmark, M Ibnu Said dalam keterangan tertulis yang diterima RMcoid, Minggu (26/5).

Selama Ramadhan, setiap akhir pekan, KBRI Kopenhagen bekerja sama dengan Indonesian Moslem Society in Denmark (IMSD) menyelenggarakan acara Buka Puasa dan Shalat Tarawih Bersama. Acara ini selalu diikuti dengan antusias oleh masyarakat, walaupun adzan magrib baru berkumandang sekitar pukul 21.30 malam waktu setempat.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Rangkaian program yang dilakukan selama bulan Ramadhan ini tidak hanya terbatas pada acara berbuka bersama. Selain itu, juga ada pengajian, tausiyah, serta pesantren kilat untuk anak-anak usia 3 tahun hingga 13 tahun. Ada juga acara menarik untuk anak, yang dikelompokkan sesuai usia. Antara lain story telling, games, dan aktivitas outdoor yang dibuat sedemikian rupa untuk anak-anak, sehingga menyenangkan dan tidak membosankan.

”Program pesantren kilat ini sangat bermanfaat bagi anak-anak, sehingga mereka dapat mengenal Islam sejak dini. Terutama, karena mereka tinggal di negara, di mana Islam bukanlah agama mayoritas seperti di Indonesia,” ujar Dubes Ibnu Said. [HES]