RMco.id  Rakyat Merdeka - Masjid Lootah di Dubai, di jantung kota Deira mungkin terlihat biasa saja. Namun, jika bisa bicara tembok bata masjid tersebut bakal menceritakan pertemuan dan bersahabatam selama puluhan tahun. Suasana hangat dan kekeluargaan yang menarik banyak pengunjung beribadah ke masjid tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah perantau dari Afrika, Asia dan bahkan beberapa perantau dari negara Teluk.

Dilansir The National, mereka yang selalu kembali ke Lootah setiap Ramadan mengatakan ini adalah ritual perenungan diri. Bahkan ada pengunjung yang rutin datang selama 50 tahun terakhir. Mereka datang dan mampir menemui teman lama yang tinggal tidak jauh dari masjid. Di belakang masjid ini, ada gang kecil bertaburan restoran kecil dan pedagang tekstil kecil-kecilan.

"Ini adalah masjid terbesar yang ada di sini saat saya pertama kali sampai di Dubai pada 1971," ujar Noor Mohamed (65), yang membuka usaha makanan di dekat masjid. "Awalnya cuma ada 25 sampai 30 orang yang beribadah di sini. Kita suka berbicara dan diskusi berjam-jam. Sekarang, masjid ini ramai. Banyak yang datang untuk beribadah," lanjutnya.

Mohamed bekerja sebagai buruh di pabrik pengepakan barang ekspedisi saat pertama kali pindah dari India Selatan. Dia ingat orang-orang berkumpul di sekitar masjid untuk bersenda gurau. "Tempat ini sudah seperti keluarga. Kita berawal dari sini dan banyak kenangan yang kita miliki di sini," kenang Mohamed.

Baca Juga : Menteri Sri Mulyani Usul Pemda Disuntik Insentif

Di dalam masjid, ada banyak perubahan yang terjadi. Ruangan diperbesar dan bangunan masjid pun dijadikan bertingkat untuk mengakomodasi mereka yang beribadah. Ubin putih kelabu menggantikan karpet merah. Lampu gantung besar menjadi penerang utama di masjid. Area halaman masjid sudah diberi ubin dan diberi atap agar para pengunjung yang ingin ngobrol di halaman masjid hingga malam, masih nyaman berkumpul.

Warga di sekitar masjid sangat bersyukur keluarga besar Lootah yang memberikan wakaf untuk memperbesar masjid itu sejak tahun 70an. Keluarga tersebut juga selalu membantu warga yang melakukan renovasi kecil-kecilan untuk mempercantik masjid.

" Ada banyak masjid yang lebih besar dan megah dari ini. Tapi, masjid ini meninggalkan kesan di hati saya," ujar Sultan Alaudeen (42), seorang bankir. "Ini adalah tempat saya merenung sejak saya pertama kali tiba di Dubai di usia 15 tahun," lanjutnya.

Selama Ramadan, Alaudeen dan beberapa temannya selalu membagikan nasi biryani pedas kepada mereka yang ingin berbuka di Masjid Lootah. Banyak yang juga membagikan makanan kepada mereka yang berbuka di masjid itu. Mereka masuk menjadi relawan di Imam Cultural Center, organisasi amal yang mulai bekerja membantu menjaga kebersihan masjid.

Baca Juga : Telkomsel Luncurin Paket Data Terjangkau Untuk Perguruan Tinggi

Di bulan Ramadan, tugas mereka juga termasuk menyiapkan makanan bagi mereka yang ingin berbuka di Masjid Lootah. Mereka juga membagikan air minum botolan untuk berbuka. Setiap pilar masjid ada rak berisikan al-Quran untuk dipakai para jamaah. Jamaah pria dan jamaah wanita bisa beribadah berbeda lantai. Jamaah pria dan wanita bebas beribadah tanpa khawatir kekurangan tempat.

"Orang-orang di sini sangat ramah. Berbeda dengan masjid lain," ujar Fatimah Saeed (32) pedagang tekstil dark Ethiopia yang rutin mengunjungi Dubai untuk berdagang. Sharika Elbahy dari Mesir mengatakan luas area ibadah wanita membuatnya terus kembali ke masjid itu bersama teman-temannya dari Yordania dan Sudan.

"Awalnya kami tiba di UEA kami sangat kekurangan. Sekarang, kami ingin terus kembali dan berkontribusi untuk masjid ini," ujar Elbahy yang bekerja di agen perjalanan. "Area ibadah wanita sangat luas dan terpisah dari area pria. Kami bisa beribadah dengan tenang," sambungnya.

Bagi mereka yang berkunjung, masjid ini menjadi tempat belajar gaya berpakaian Muslim lain. Di area wanita, ada yang memakai penutup wajah full, ada yang menggunakan jilbab besar ada juga yang menggunakan kain syal sebagai penutup rambut yang dipadupadankan dengan pakaian modern.

Baca Juga : Perta Arun Gas Gali Potensi Bisnis di Kuwait

"Saya bisa belakar budaya lain. Bagaimana wanita lain berpakaian dan berbicara," ujar Amina Yahya yang baru mengunjungi masjid tersebut bersama ibunya. "Beberapa menggunakan abaya seperti kita, ada yang pakai niqab jadi anda tidak bisa lihat wajah mereka sama sekali. Ada juga yang ibadahnya meletakkan tangan di dada dan ada juga yang di perut. Sangat beragam," lanjutnya.

Rehnat Sahil Halde (56) juga senang melihat beragamnya jamaah yang datang dari berbagai kewarganegaraa . "Ada yang berbahasa Inggris, Arab, Hindi, Farsi dan banyak lagi. Mereka mungkin berbeda bahasa, namun tujuan mereka di sini hanya satu, berdoa kepada tuhan yang sama," tutup Halde.[DAY]