Balitbang dan Inovasi KLHK Gelar Festival Riset Hutan Tropis dan Lingkungan Hidup

Festival Riset Hutan Tropis dan Lingkungan Hidup (Festival Tropical Forestry and Environment Research) di Kawasan Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (13/8). (Foto: Istimewa).
Klik untuk perbesar
Festival Riset Hutan Tropis dan Lingkungan Hidup (Festival Tropical Forestry and Environment Research) di Kawasan Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (13/8). (Foto: Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama Biro Humas KLHK menggelar Festival Riset Hutan Tropis dan Lingkungan Hidup (Festival Tropical Forestry and Environment Research).

Acara dilaksanakan di area Perkantoran Pusat Litbang Kualitas Laboratorium dan Lingkungan (P3KLL) Kawasan Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (13/8).

Sejumlah riset dan inovasi ditampilkan, seperti pemanfaatan hasil hutan, teknologi bioinduksi pembentukan Gaharu dan sebagainya.

Kepala Balitbang dan Inovasi Kementerian LHK Agus Justianto mengatakan, acara ini merupakan salah satu agenda dari Biro Humas LHK kepada Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK dalam rangka memfasilitasi diseminasi kinerja seluruh Eselon I LHK kepada media.

“Permasalahan dan tantangan pengelolaan sekitar 126 juta hektar kawasan hutan negara cukup besar, berat dan kompleks,” ujar Agus membacakan sambutan Menteri LHK Siti Nurbaya.

Intervensi beragam kepentingan baik internasional maupun nasional, kutip Agus, yang perlu diartikulasikan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah sebagai simpul negosiasi aspirasi dan kepentingan–kepentingan dimaksud.

Berita Terkait : KLHK Pamerkan Aplikasi Sistem Informasi Laboratorium Serpong

“Karenanya, pengambilan keputusan dalam rangkaian kerja tersebut, sangat memerlukan dan harus ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan hasil olahan teoritik maupun empirik lapangan,” jelasnya.

Salah satu tantangan memangku dan mengelola 126 juta hektar hutan dan lingkungan, kata dia, kebijakan dan paradigma baru tentang pengolaan hutan yang sedang terus dikembangkan atas arahan presiden.

“Yakni untuk orientasi kesejahteraan masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, Badan Litbang dan Inovasi saat ini mulai bekerja dalam 4 paradigma baru. Cara-cara dan proses bisnis litbang yang ada kini, tidak cukup lagi mengikuti tingginya dinamika dan kompleksitas persoalan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan,” ungkap Menteri Siti dibacakan Agus.

Dinamika persoalan kehutanan dan lingkungan sekaligus tantangan produksi dan co-produksi pengetahuan tersebut, mendorong Badan Litbang dan Inovasi untuk terus bergerak menemukan inovasi strategi baru.

Empat paradigma baru tersebut, rinci dia, produksi/reproduksi pengetahuan; pertukaraan dan perdebatan (kontestasi) pengetahuan dan branding. Kedua, promosi, kampanye, dan advokasi.

Ketiga pembangunan jaringan dan memperluas jangkauan. Serta keempat masuk dalam virtual era dan society era, serta merintis komersialiasi, bisnis, marketing dan entrepreneur.

Berita Terkait : KLHK Bantah Pernyataan Greenpeace Soal Deforestasi Indonesia Buruk

Tanggal 10 Agustus 2019, terang dia, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, mengangkat tema Iptek dan Inovasi Dalam Industri Kreatif 4.0 dengan sub tema Industri Kreatif 4.0 Untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa dan memiliki tagline Inovasi, Bangun Bangsa.

Melalui Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Badan Litbang dan Inovasi dengan 4 paradigma barunya diharapkan mampu berkomitmen dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya teknologi.

“Melihat pergerakan tingkat global yang sangat cepat, dengan momen kebangkitan teknologi nasional kita juga harus bergerak cepat agar kita tidak ketinggalan. Saya harap, dengan inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh Badan Litbang dan Inovasi kita dapat mendahului perubahan dan pergerakan tersebut, dalam rangka mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perubahan yang ada,” ujar Menteri Siti.

Memasuki era Industri 4.0, dimana perkembangan teknologi informasi saat ini menampilkan cara-cara kerja virtual, dengan tetap mempertimbangkan aspek-aspek sosial.

Cara-cara kerja tersebut yang tercatat lebih efisien mengkonsumsi sumberdaya, baik dalam operasionalisasi ruang, pembiayaan, waktu, dan SDM. Banyak organisasi/institusi melakukan “downsizing”.

Demikian juga dengan mengelola penelitian dan pengembangan. Agenda-agenda virtual dikenalkan dalam pelaksanaan-pelaksanaan litbang termasuk dalam promosi-promosi.

Berita Terkait : Negara Apresiasi Masyarakat Hukum Adat

Litbang sebagaimana disebutkan di atas, tidak cukup lagi bergerak dalam “pelayanan publik”, namun diperluas dengan agenda-agenda komersialisasi dan bisnis litbang. Badan Litbang dan Inovasi juga menginisiasi “industri pengetahuan”.

"Pemasaran (marketing) bergerak dari pemasaran secara fisik, diperkuat secara digital. Kapasitas SDM diperkaya dengan inisiatif-inisiatif wirausaha (entrepreneur),” jelasnya.

Selain itu, dengan keterbatasan sumberdaya baik pembiayaan dan SDM maka perlu menyusun brand (ikon/unggulan). Branding tersebut akan memberikan “label dan identitas” bagi pembangun pengetahuan, sehingga inisiatif dan energi difokuskan pada brand dimaksud, baik brand institusi/lembaga maupun brand individu saintis.

Hal tersebut juga sekaligus menjadi penopang agenda-agenda promosi.
 Selanjutnya