Trend Islam Di AS (50)

Peran Imam di AS

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gelar imam di AS bukan sekadar orang yang ditunjuk sebagai imam masjid yang mengimami para makmun yang hendak melaksanakan shalat berjamaah di masjid, bukan juga sekaligus menjadi khatib Jum’at yang menyampaikan nasehat dan pesan formal kepada jamaah shalat Jum’at, tetapi imam di AS lebih dari sekadar itu. 

Imam di AS seringkali mendapatkan beban ekstra lebih kompleks karena ia juga berfungsi sebagai representasi pemimpin umat yang mengawinkan atau mendampingi seorang wali untuk melaksanakan akad nikah sebuah perkawinan. Bahkan imam-imam di AS terkadang ditunjuk sebagai representase wali hakim bagi mereka yang tidak memiliki wali. 

Selain urusan fikih ibadah dan fikih munakahah sebagaimana disebutkan tadi, imam-imam di AS juga sering mendapatkan tugas tambahan untuk mengislamkan atau menuntun dan membimbing orang-orang muallaf yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu, khususnya dekade terakhir ini. Selain itu, imam-imam masjid di AS sering diundang oleh pemerintah federal dan lokal untuk interfaith meeting/dialog. 

Berita Terkait : Imam Sebagai Mediator Umat

Ketika penulis menjadi imam di IMAAM Center di Washington DC dan sekitarnya, meliputi Maryland dan Virginia, penulis disibukkan dengan berbagai undangan, baik dari warga jamaah maupun menjalankan joint program dengan masjid atau Islamic Center lain. 


Ketika bulan suci Ramadhan, secara rutin diajak oleh beberapa komponen pemerintah untuk buka puasa bersama, termasuk imam-imam juga diundang ke Gedung Putih buka puasa bersama di tempat itu yang dihadiri oleh Presiden AS, mulai zaman Bush, Obama, hingga beelum lama ini Donald Trump juga mengundang para imam dalam acara buka puasa Bersama di White House.
 
Jenis visa yang diberikan kepada seorang imam yang berasal dari negara lain seringkali mendapatkan visa khusus yang memungkinkan yang bersangkutan lebih longgar keluar-masuk dan bekerja di AS. Tidak sedikit di antara para imam yang tadinya pemegang visa tokoh agama ditingkatkan menjadi Green Card, bahkan Citizen, tergantung reputasi dan prestasi yang ditampilkan yang bersangkutan selama bertugas di AS. 

Jika prestasinya baik maka mereka direkam oleh pemerintah dengan prestasi baik. Sebaliknya jika seorang imam melakukan kekeliruan apalagi kesalahan fatal maka biasanya yang bersangkutan tidak lagi diperpanjang visanya, bahkan pernah ada yang diusir karena melakukan kegiatan yang terlarang sebagaimana ia fahami ketika mereka diajari wawasan keamerikaan di masa-masa awal. 

Berita Terkait : 5 Mitos Tentang Muslim Amerika

Tentu saja imam selain di AS harus menyampaikan kegiatannya secara reguler (tergantung kebijakan setiap negara bagian), hal ini dimaksudkan demi kelancaran kehidupan berbangsa dan bernegara di AS. Ketika pada saatnya tiba hari-hari raya keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha, atau hari-hari raya keagamaan lainnya, sebaiknya imam melaporkan kepada pemerintah setempat agar mereka tidak curiga dengan kehadiran massa yang berjumlah besar. 

Bagi kita, memberikan laporan kegiatan keagamaan kepada pemerintah bukanlah suatu masalah besar, karena selama ini kegiatan keagamaan atau hari raya Nasional lain seperti peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, juga sebaiknya dilaporkan. Pemerintah AS jarang bahkan tidak pernah melarang umat Islam di AS untuk melaksanakan kegiatan peribadatan. Inilah keunikan AS. 

Siapapun yang bertugas menjadi salahsatu imam di AS, sebaiknya yang dilakukan pertama ialah menyampaikan segenap program kerja tahunan dan kemungkinannya membutuhkan pengawalan atau pengamanan dari pihak keamanan. Semoga kerjasama umat Islam dari berbagai kalangan bisa bersambung rasa secara positif dengan komuni-tas masyarakat AS lainnya. ***