Trend Islam di AS (77)

Pengaruh Muslim Scholars AS Di Luar Negeri

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengaruh Muslim Scholars AS di luar negeri, khususnya negara-negara mayoritas muslim, ternyata sangat besar. Apa yang pernah ditulis Prof Osman Bakar dalam tulisannya, ”The Intellectual Impact of American Muslim Scholars on the Muslim World, With Special Reference to Southeast Asia”, di dalam “Muslim in The United State”, menjadi kenyataan di dalam sejumlah negara muslim.

Di Indonesia sendiri, pengaruh muslim scholars AS seperti Sayed Hussen Nasr, Ismail Ragi Alfaruqi, dan Fazlurrahman, ditambah lagi dengan professor-profesor muslim muda di beberapa universitas terkemuka di AS. Para professor dalam bidang keislaman di AS betul-betul memberikan pengaruh yang sangat mengesankan. Mereka bisa mengubah jalan pikiran muslim yang tadinya hard liner menjadi lebih moderat.

Bukan hanya pada dirinya sendiri yang berubah tetapi masyarakat dan instansi atau institusi yang dipimpinnya juga ikut terpengaruh. Wawasan keilmuan yang komprehensif dan dengan metodologi keilmuan yang sophisticated serta lingkungan masyarakat yang begitu terbuka dan demokratis, membuat mereka sadar bahwa dunia barat yang tadinya lebih heavy dengan konotasi negatif tiba-tiba berubah menjadi pendukung demokrasi dan suasana dialog di dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Berita Terkait : Pengaruh Ismail Al-Faruqi

Di Mesir sendiri yang bisa disebut sebagai center of academic excellent-nya dunia Islam, menganggap belum cukup seorang ilmuan jika belum pernah melakukan studi banding di Amerika atau Eropa. Pemerintah Saudi Arabia akhir-akhir ini juga mensyaratkan para calon Rektor di seluruh Perguruan Tingginya menguasai Bahasa Inggris atau Bahasa Eropa lainnya. 

Di Indonesia sendiri, kita bisa menyaksikan bagaimana pengaruh lulusan AS di Indonesia. Dosen-dosen lulusan AS yang mengajar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam, sangat besar pengaruhnya. Mereka bukan hanya sebagai Islamic scholars terkemuka, tetapi juga mereka rata-rata tampil sebagai pemimpin atau Rektor di berbagai Perguruan Tinggi.

Kementerian Agama RI yang mengelola Perguruan Tinggi Agama Islam, banyak dipimpin oleh lulusan Pendidikan Barat, mulai dari Menteri Agama pertama Prof HM Rasyidi, Prof Mukti Ali, Prof Munawir Syazali, dan Prof Malik Fajar. Pejabat eselon 1 di Kementerian Agama juga didominasi, khususnya Dirjen Pendidikan Islam, umumnya dipimpin oleh alumni Pendidikan barat.

Berita Terkait : Pengaruh Muslim Scholars Di AS

Ini semua menunjukkan bahwa pengaruh Pendidikan Barat, khususnya di AS sangat besar. Dampak Pendidikan di dunia barat memberikan pengaruh signifikan dalam terciptanya moderasi Islam di Indonesia. Pengalaman di Indonesia juga tidak jauh beda dengan dunia Islam lain, pengaruh muslim scholars sangat penting untuk menciptakan moderasi muslim dan terwujudnya masyarakat yang tolerans.

Yang menarik tentu bukan saja dalam bidang Islamic Studies tetapi juga disiplin ilmu lain, seperti Teknik, Kedokteran, Antropologi, Sosiologi, dan ilmu-ilmu umum lainnya. Walaupun mereka dari disiplin ilmu yang non agama (Islam) tetapi tidak jarang mereka menjadi nara sumber dalam bidang keagamaan. Ada kecenderungan masyarakat menemukan sesuatu yang lebih segar dan baru dari lulusan AS.

Tidak heran juga jika para alumni AS di berbagai daerah lebih popular dan lebih dominan khususnya dalam bidang keilmuan yang ditekuninya. Ada kecenderungan masyarakat kita lebih percaya dan lebih tertarik mendengarkan para sarjana barat khususnya AS dalam banyak hal daripada sarjana-sarjana perguruan tinggi lain, termasuk perguruan tinggi lokal. 

Berita Terkait : “US Is The Second Mecca”

Pengaruh alumni AS di luar negeri, khususnya dunia Islam, memberikan citra positif terhadap AS. Tidak heran jika generasi muda cerdas Indonesia memitoskan dunia Pendidikan AS. Seolah-olah dunia Perguruan Tinggi paling bergengsi di dunia ialah di AS. Memang harus diakui bahwa rating 100 Perguruan Tinggi terkemuka dunia umumnya berada di AS. ***