Peristiwa Kontroversi Yang Dilakukan Nabi & Sahabat (30)

Mengawinkan Irano-Semit, Dan Afro-Erasia

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sangat tidak gampang mengubah sejarah dalam waktu singkat. Apalagi mengawinkan dua budaya yang 250 tahun mengalami perang secara total, yaitu Kerajaan Persia di Timur dan Kerajaan Romawi Byzantium di Barat. Kedua negeri adidaya ini juga mewakili symbol budayanya masing-masing, yaitu IranoSemit dan Afro-Erasia. Keuntungan sejarah Nabi Muham¬mad Saw dalam mengemban misi peradabannya ialah karena secara geopolitik ia berada di antara dua kekuatan raksasa saling berebutan pengaruh di kawasan Timur-Tengah saat itu. Di sebelah barat ada Romawi-Bizantium, dan di sebelah Timur ada Sasania-Persia. Persaingan yang sering diikuti peperangan antara kedua negeri adidaya ini tidak secara langsung melibatkan jazirah Arab, karena mungkin keduanya tidak memperhitungkan kawasan ini sebagai daerah strategis. Selain jauh, terlalu luas, dan wilayahnya gersang, juga penduduknya terbelakang (badawa/tribal).

Secara geokultural jazirah Arab berada di antara apa yang disebut Marshall G.S. Hodgson dalam The Venture of Islami, Irano-Semit di Timur dan Afro-Erasia di Barat. Messkipun berbeda kawasan dan latar belakang budaya, keduanya memiliki peradaban yang maju. Keduanya masing-masing memiliki kawasan subur untuk pertanian dan peternakan, meskipun tidak secara keseluruhan. Keduanya juga masing-masing mengembangkan tradisi perdagangan antar negeri. Corak perkotaan dan cikal-bakal civil society menjadi ciri khas kedua negeri ini. Produk-produk andalan dan kerajinan masing-masing wilayah di¬pasarkan melalui tradisi perdagangan, baik melalui laut maupun melalui daratan. 

Baca Juga : Jerman Laporkan 2 Kasus Kematian Pertama Akibat Virus Corona

Perkembangan kebudayaan dan peradaban kedua kawasan ini ikut membentuk wawasan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang anak muda cerdas yang pernah melanglang buana membawa barang dagangan bosnya, Siti Khadijah, yang kemudian menjadi isterinya. Tidak heran ketika Nabi Muhammad Saw diamanati menjadi pemimpin Madinah, dengan mudah mengadakan hubungan diplomatic dan ekonomi dengan negeri-negeri tetangganya. Surat-menyurat dan utusan misi-misi khusus yang dikirim Nabi ke berbagai pusat kerajaan dan pemerintahan dianggap salah satu factor yang mendatangkan benefit, baik dalam kapasitasnya sebagai pemimpin politik di Madinah/negeri muslim maupun sebagai pemimpin spiritual (Islam). 

Akar historis tradisi budaya dan peradaban Irano-Semit di Timur dan Afro-Erasia di Barat diakomodasi di dalam kepemimpinan Nabi. Pengiriman misi dagang, misi ilmu pengetahuan, misi politik, dan misi agama ke berbagai negara dilakukan untuk memperkaya sumber daya manusia yang handal dan kompetitif. Sahabat-sahabat dekatnya di Madinah belakangan menjadi gubernur atau kepala pemerintahan di daerah yang baru diambil alih, misalnya Muawiyyah diangkat menjadi Gubernur di Syiria, termasuk wilayahnya adalah Yordania. Amru bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir. Musa Al-Asy’ari diangkat menjadi Gubernur Kufah. Mu’adz bin Jabal diangkat menjadi Gubernur Yaman. Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain. 

Baca Juga : Jiwasraya Masih Kaya Raya

Akulturasi dan enkulturasi budaya dan peradaban Irano-Semit dan Afro-Erasia menjadi salahsatu factor kekuatan budaya dan peradaban Islam. Namun Islam tidak semata-mata meng-copy-paste peradaban tersebut melainkan Islam tetap menampilkan orisinalitasnya yang bercorak kosmologi teomorfis. Orisinalitas peradaban Islam, sebagaimana yang akan dipaparkan dalam artikel-artikel mendatang, jelas sangat berbeda dengan produk-produk sebelumnya. Apalagi produk-produk sains dan teknologi yang dirintis para ilmuan Islam jelas-jelas merupakan karya gemilang dan genugenuinet Islam.