Trend Islam di AS (81)

Siapa Muslim Thinkers Di AS?

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di AS saat ini sedang demam Islam. Apa saja yang berhubungan dengan Islam selalu menjadi headlines atau The Top Issues. Tidak heran jika saat ini bermunculan komentator tentang fenomena keislaman. Banyak sekali orang di AS tiba-tiba menjadi Islamic Commentator.

Para pemburu berita mengincar orang-orang yang bisa memberikan pernyataan tentang Islam. Yang menjadi masalah ialah siapa sesungguhnya yang bisa disebut pemikir muslim (muslim thinkers) di AS. Jangan sampai hanya karena menggunakan nama Islam atau kearab-araban tiba-tiba menjadi muslim thinkers.

Publik awam AS sering tidak bisa membedakan antara the real muslim thinkers dan the pseude muslim thinkers. Baru bisa membaca dan mengutip satu ayat atau hadis tiba-tiba mendeklarasikan sebuah pendapat. Ini yang sering menjadi masalah di AS. Sama saja di Indonesia, setiap orang bebas memposting pendapatnya ke media sosial.

Berita Terkait : Catatan Penting dari Ministrial to Advance Religious Freedom

Ada orang yang baru ”hijrah” tiba-tiba mengkalin pendapatnya paling Islam, yang lainnya salah atau keliru. Sementara orang-orang yang keilmuannya mumpuni biasanya tidak berani speak uot, berbicara keluar. Publik akhirnya bingung, siapa sesungguhnya yang paling layak didengar? Siapa yang menjadi representatif bisa disebut pemikir Islam (Islamic thinker)? Islamic thinking sekarang sedang laris-larisnya menjadi topik.

Bukan saja karena orang-orang mencari tahu apa yang akan terjadi pasca ISIS dan Alqaedah (the end of ISIS and Alqaedah) tetapi munculnya sejumlah gagasan cerdas dari pemikir-pemikir Islam tentang sebuah dunia baru, post 4,5 idea. Di AS saat ini sedang laris-larisnya buku-buku pemikiran Islam, tentu saja sedang lakunya seminar dan konferensi tentang Islam, misalnya Islam dan sains modern, live after dead.

Buku yang kini sedang the best seller di AS ialah After The End, karya Mrs Bill Gate. Buku ini dijual seperti pisang goreng. Ternyata isinya adalah ajakan dari keluarga orang terkaya dunia ini kepada umat manusia untuk kembali berkontemplasi memikirkan hakekat dan makna hidup. Isu seperti ini adalah isu yang sudah lama diisukan hampir semua agama. Ia seolah menyadarkan semua orang yang tergila-gila mencari uang bahwa kekayaan ternyata bukan segala-galanya.

Berita Terkait : Signifikansi Pengaruh Muslim Scholars AS di LN

Pemikir-pemikir perenial, termasuk dari kalangan muslim kini sedang laris-larisnya di AS. Sangat berbeda jika kita datang di AS 10 tahun lalu, seolah-olah warga AS masih tersisa kebencian terhadap para teroris yang pernah mempermalukan AS pada 9/11/2001. Akhirnya Islam pun sering dikesankan sebagai agama yang mendukung kekerasan. Kini wajah kebencian dan keraguan itu tersisa hanya sedikit.

Yang umum ialah wajah kebersamaan, keramahan, toleransi, dan keempatian terhadap problem kemanusiaan. Siapapun yang berbicara tentang sebuah solusi problem kemanusiaan selalu mendapatkan simpatik. Gaya seseorang yang ingin mendapatkan popularitas publik dengan membakar kebencian pada kelompok tertentu, sudah ditinggalkan.

Presiden AS, Donald Trump pun memiliki gaya bahasa yang berbeda ketika pertama kali ia dilantik sebagai Presiden AS. Ia dengan penuh simpatik mengundang para Imam dan tokoh-tokoh agama untuk berbuka persama di Gedung Putih bulan Ramadhan yang baru lalu. Ia sadar bahwa ternyata gaya komunikasi berbal yang feminin lebih kuat pengaruhnya dari pada gaya bahasa maskulin. Betul perinsip agama bahwa: Femininity is the super power, kelembutan adalah bahasa paling kuat.

Berita Terkait : Mengapa Islam Mudah Diterima

Jika seseorang ingin menjadi muslim thinkers tentu harus memahami substansi ajaran Islam. Dalam Hadis Nabi dikatakan, pemadatan semua ayat Al-Qur’an ialah surah al-Fatihah, makanya disebut induknya Al-Qur’an (umm al-Qur’an), intinya surah al-Fatihah ialah ayat pertamanya, Bismillahir rahmanir rahim (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang), intinya basmalah ialah al-rahman al-rahim yang biasa disebut dalam ilmu tasawuf sebagai induknya nama dan sifat Allah (amm al-ama’). Kedua kata ini berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahima (cinta). Jika Al-Qur’an itu dipadatkan menjadi hanya satu kata, yaitu ”Cinta”, bukan benci. ***