Membaca Trend Globalisasi (1)

Nabi Muhammad Sebagai Pioner Globalisasi

Nasaruddin Umar


RMco.id  Rakyat Merdeka - Jika yang dimaksud globalisasi seperti yang dilukiskan oleh Oliver Roy dalam “Globalised Islam”, yakni hilangnya sekat-sekat geografis dan kultural sebagai akibat dari bekerjanya sebuah sistem nilai yang dianut sebagian besar masyarakat, pioner globalisasi sesungguhnya ialah Nabi Muhammad Saw. Dalam sejarah kemanusiaan, tidak pernah ada tokoh sekaliber beliau yang mampu menyaksikan ajaran yang dibawanya, dianut separuh belahan dunia. Pengakuan yang diberikan oleh Michael H. Hart dalam buku monumentalnya  “The 100 ARanking of The Most Influetial Persons in History”, yang menghimpun 100 tokoh terkemuka pernah lahir dari perut bumi ini dan menempatkan Nabi Muhammad sebagai urutan pertama paling berpengaruh di dunia. Thomas Carlyle membatasi lagi dengan hanya 11 tokoh terkemuka di muka bimi ini dan tetap diunggulkan Nabi Muhammad Saw sebagai yang The Best. 

Pengakuan kedua tokoh legendaris itu sesungguhnya membuktikan asumsi bahwa Nabi Muhammad Saw pioneer globalisasi. Jauh sebelum kedua tokoh ini, sudah pernah juga dinyatakan oleh Marshall G.S. Hodgson dalam “The Venture of Islam” yang menelusuri sejarah Nabi Muhammad Saw. Para tokoh ini menyimpulkan, keunggulan Nabi Muhammad, tentu saja selain kapasitasnya sebagai Nabi dan Rasul, ialah kekuatannya sebagai The Best Leader dan sekaligus The Best Manager. Banyak tokoh hanya tampil sebagai pemimpin (leader) tetapi tidak tampil maksimum sebagai seorang manajer. 

Dalam kurun waktu hanya 23 tahun, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw membentang ke seluruh jazirah Arab, kemudian berpenetrasi ke belahan dunia bagian Timur yang saat itu di bawah protektorat kerajaan Persia yang berpusat di Iran. Di dunia bagian Barat yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan Romawi-Byzantium yang sekarang Istanbul. Tokoh politik dan tokoh spiritual pada umum¬nya pengaruhnya berkembang luas setelah perintisnya meninggal. Tokoh spiritual, misalnya Nabi Musa yang membawa agama Yahudi, Nabi Isa, yang oleh umat Katolik dan Protestan disebut Yesus Kristus, yang membawa agama Nasrani, termasuk Sidharta Gautama yang merintis agama Budha, Karl Marx (murid Fredereck Hegel) merintis paham Komunisme, dan sejumlah tokoh legendaris lainnya, baru terkenal setelah mereka wafat. 

Pengakuan yang sama juga diberika oleh Prof L.W.H. Hull dalam buku monumentalnya History and Philosophy of science. Ia mengungkapkan, siklus pergumulan antara agama, filsafat, dan ilmu, yang kemudian melahirkan corak per-adaban baru terjadi setiap enam abad. Ia mulai mengakaji enam abad SM sampai abad pertama Masehi ditandai dengan lahir dan berkembangnya pemikiran tokoh-tokoh filsafat Yunani seperti Tales (ahli filsafat, astronomi, dan geometrika), Pytagoras (geometrika dan aritmatika), Aristoteles (ahli filsafat, ilmu empiris), Plato (ahli filsafat, ilmu-ilmu rasional) dll.

Periode kedua, abad pertama Masehi sampai abad keenam, ditandai lahirnya Nabi Isa sampai lahirnya Nabi Muhammad abad kedelapan, ditandai dengan merosotnya pengaruh dan popularitas para filosof dan menguatnya peran penguasa yang sekaligus sebagai penguasa gereja. Mereka memperatasnamakan diri sebagai wakil Tuhan di bumi. Otoritas dan penentu kebenaran berada di tangan Raja (Romawi). Periode ketiga Periode keempat, abad ketujuh sampai abad ke 12 ditandai dengan kejayaan dunia Islam yang mengubah wajah dunia sedemikian cepat dan belum pernah terjadi sebelumnya. Periode keempat, abad ke-13 sampai abad ke-19 yang ditandai dengan kemunduran dunia Islam dan kemajuan dunia Barat, khususnya Eropa. Periode berikutnya, abad ke 20 saat ini sudah mulai ditandai dengan sebuah zaman yang sulit diprediksi karena begitu cepat terjadinya perubahan.
 

RM Video