Sikap Oposisi Sumantri

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kekuatan empat partai politik koalisi Indonesia adil makmur di parlemen hampir mencapai 40 persen.Terdiri dari Partai Gerindra, Partai PKS, PAN, dan Demokrat.

Kalau keempat partai bergabung dalam sebuah oposisi, kekuatannya lebih besar dibandingkan kekuatan oposisi pada pemilu sebelumnya. Partai pemenang pemilu mempunyai tugas mengurus negara.

Berita Terkait : Ekspansi Koalisi Durno

Sedangkan partai yang kalah harus legowo menjadi kekuatan penyeimbang di luar pemerintahan. Sistem demokrasi modern memerlukan kekuatan penyeimbang dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Partai-partai pendukung Prabowo-Sandiaga Uno apa masih solid dan siap jadi oposisi, Mo”? tanya Petruk. Romo Semar tidak komentar. Semar memilih menikmati kopi pahit sambil menghisap rokok kelobot buatannya sendiri.

Berita Terkait : Freeport Kucurkan 33 Juta Dolar untuk Bangun Pusat Olahraga PON 2020

Sekali-sekali Semar cek saldo di tabungan banknya melalui e-banking. Karena dua hari lalu ada bank besar mengalami error sistem IT-nya. Kegagalan sistem menyebabkan beberapa nasabah komplain saldonya berkurang.

Pikiran Semar justru mengingat kembali peristiwa penting di kerajaan Mahespati. Bambang Sumantri berani melawan Prabu Harjuno Sos robahu karena tidak konsisten dalam menjalankan kekuasaan.

Berita Terkait : Rekrut Rektor Asing, Ide Ngawur!

Kocap kacarito, Prabu Harjuno Sos robahu memberi tugas kepada Bambang Sumantri untuk mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Citrawati di Kerajaan Magada.

Dewi Citrawati anak Prabu Citra Wijaya akan dijadikan permaisuri Prabu Harjuno Sosrobahu. Tugas tersebut merupakan syarat sebelum Sumantri diterima sebagai abdi atau punggawa kerajaan di Mahespati.
 Selanjutnya