Membaca Trend Globalisasi (13)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Globalisasi Optik

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Salahsatu prestasi ilmuan Islam yang pernah mendapatkan berbagai pengakuan dan penghargaan ialah penemuan optic. Tokoh di balik Optik ialah Ibn Haitsam yang bernama lengkap Abu ‘Ali al-Hasan ibn al-Haitsam al-Bashri al-Mishri, atau di Barat lebih dikenal dengan nama Alhazen, lahir di Bashrah tahun 965 dan wafat di Kairo pada tahun 1039. Ia mengembangkan kariernya sebagai ilmuan sejati dalam masa pemerintahan Al-Hakim Ibn Amir Abdullah dari Dinasti Fatimiyah. Namanya mulai dikenal ketika ia diundang ke Mesir, pusat kerajaan Fatimiyah, untuk memecahkan persoalan banjir di sungai Nil, walaupun pada akhirnya tidak berhasil memecahkan persoalan itu. Namanya sangat tersohor sebagai penemu misteri Optik. Tidak heran jika kemudian ia digelar sebagai Bapak Optik. Nama besarnya diakui oleh Pro¬fessor George Sarton dari Harvard University dalam buku monumentalnya “A History of Science” menulis panjang lebar tentang peran ilmuan muslim di abad pertengahan yang sedemikian luar biasa. Termasuk yang dikagumi dalam buku itu ialah Ibn Haitsam, yang disebutnya sebagai The Greatest Muslim Physicist and One of The Greatest Students of Optics all Time. 

Ibn Haitsam keahliannya bukan hanya Optik tetapi juga matematika dan fisika. Ia disebut Bapak Optik karena berhasil memecahkan problem Optik dengan analogi matematik tingkat empat yang sampai sekarang masih diabadikan dengan Alhazen’s Problem. Inti problem itu ialah sebuah kaca yang berbentuk silinder cekung bulat atau cembung bundar, dapat digunakan untuk mencari di mana letak sebuah benda. Dari kaca tersebut dapat diperoleh pantulan cahaya pada mata yang letaknya tertentu”. Ibn Haitsam kemudian mengembangkan fungsi Optik yang ditemukannya untuk memecahkan berbagai pronlem lain. Termasuk ia mengubah telaah Optik yang sebelumnya didasarkan atas teori Euclide dan Ptolemeus menjadi sains yang betul-betul baru dan orisinal. 

Ibn Haitsam juga mengevaluasi teori Eu¬clides-Ptolemeus yang beranggapan bahwa benda terlihat karena mata memancarkan sinar kepada benda. Ia menegaskan dengan melalui berbagai eksperimen bahwa sinar cahaya bergerak mulai dari obyek dan berjalan menuju mata. Benda terlihat karena ia memantulkan sinar ke mata. Teorinya inilah kelak menjadi cikal bakal temuan rekayasa Optik yang hingga sekarang sudah sedemikian fantastic. Teori ini pun juga mempunyai andil di dalam penelaahan anatomi dan penyakit mata. 

Seperti ilmuan Islam lainnya, Ibn Haitsam juga menguasai ilmu-ilmu keagamaan seperti teologi, filsafat, dan ilmu fikih. Ia juga dilaporkan memiliki banyak karya tetapi yang sampai di tangan kita sekarang ialah Kitab al-Manazil (Book of Optics) yang terdiri atas tujuh jilid dan setiap jilidnya berisi rata-rata 1000 halaman. Buku ini menurut Charles merupakan buku sains modern pertama tentang Optik. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke 16 dengan judul Opticae Thesaurus. Dari buku inilah mempengaruhi lahirnya karya-karya berikutnya. Menurut Will Durant (1952), tanpa buku Ibn Haitsam tidak mungkin ada Rogel Bacon dan Kepler. Bahkan ada yang menuding Roger Bacon yang terkenal sebagai nabinya ilmuan Barat, yang popular dengan buku Opticsnya, sesungguhnya hampir merupakan terjemahan sempurna dari karya Ibn Haitsam. Beberapa artikel ilmiah bahkan menghujat Roger Bacon sebagai seorang plagiator besar di zamannya.