Habis Caci Maki, Terbit Mimpi Kursi

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kampanye politik, terutama kampanye pemilihan umum, di seantero dunia mempunyai tema sentral yang sama. Pertama, menyerang atau mengecam habis-habisan lawan. Jika yang dilawan adalah petahana, maka segala kebijakan pemerintah lawan dijungkirbalikkan.

Semua dituding jelek, dan jelek. Tema kedua, mendewakan “Aku” alias jual kecap, berkaok-kaok bahwa rakyat pasti akan lebih sejahtera, negara akan lebih kuat jika “Aku terpilih sebagai pemimpin”.

Tema pertama bertujuan agar rakyat tidak suka, bahkan benci pada lawan/petahana. Tujuan tema kedua kebalikannya, supaya rakyat “senang sama aku” dan nanti ramai-ramai mencoblos gambarku di bilik suara.

Strategi melancarkan kampanye beragam. Ada yang moderat, ada yang keras atau kasar termasuk caci-maki, fitnah, propaganda, hoaks sampai serangan fisik.

Berita Terkait : Keamanan Papua Bukan Tanggung Jawab TNI Saja!

Situasi ini juga terjadi di Indonesia selama kampanye Pemilu 2019. Kubu 02 tidak henti-hentinya menyerang dan menyerang dengan suara sekerasnya dan emosi tinggi.

Karena berkomunikasi dengan emosi tinggi, maka data atau fakta yang disajikan tidak jarang ngawur alias tidak berdasar sama sekali. Sebaliknya, Jokowi sebagai petahana berusaha tenang sambil senyum. Ketika Prabowo menyerang para pendukung Jokowi “menuduh saya ingin menegakkan negara khilafah”

(Kejam tuduhan itu!) Jokowi menjawab dengan tenang, sambil melemparkan senyum ke arah Prabowo: “Orang Prabowo juga menuduh saya PKI.......” Prabowo menuding Jokowi “Antek asing”; entah maksudnya karena kedekatan pemerintah sekarang dengan RRT atau apa.

Usai bertemu dengan SBY pada awal 2019, Prabowo secara eksplisit menuduh “Jokowi penipu”. Presidential threshold dikatakan “lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia”.

Berita Terkait : Mendesak, Pelibatan TNI Mengatasi Terorisme

Dengan Pres-T yang sudah berhasil digoal-kan oleh koalisi partai-partai pendukung Jokowi, Prabowo menuduh Jokowi seperti ingin berkuasa 10 tahun, 20 tahun, bahkan 50 tahun.......!! Tinggi sekali kadar emosi Prabowo hari itu.

Wong, mertuanya saja berkuasa tidak sampai 50 tahun; “cuma” 32 tahun, itu pun karena sistem yang diberlakukan sistem otoriter. Setelah regime Orde Baru ambruk pada 21 Mei 1998, masa jabatan Presiden RI. dikunci rapat-rapat oleh UUD 1945 hasil amandemen: maksimal 10 tahun.

Kenapa menuding Jokowi ambisi mau jadi presiden 50 tahun?! Dalam debat calon presiden yang terakhir tanggal 13 April 2019, Calon Presiden Prabowo Subianto menuduh Jokowi telah menghancurkan petani dalam negeri. Kehancuran petani tersebut, kata Prabowo, dilakukan Jokowi dengan membuka keran impor bahan pangan.

“Selama 4,5 tahun pemerintahan Bapak, telah membuka keran impor bahan pangan cukup lebar. Kenapa tidak fokus ke industri, kenapa malah fokus ke infrastruktur, kenapa 4,5 tahun ini menteri Bapak malah diizinkan untuk memasukkan komoditas asing dari luar dengan pesat!” hantam Prabowo dengan wajah kesal dan emosional.

Berita Terkait : Tantangan Terberat Pemerintahan Jokowi Jilid Ke-2

Kita tidak mengerti dari mana Prabowo mendapatkan data yang ngawur itu. Pemerintah Jo kowi, di bidang pangan, justru sangat berhasil. Indonesia 2,5 tahun terakhir sebenarnya sudah mencapai swasembada beras.
 Selanjutnya