Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anak-anak migran muslim yang lahir di AS atau datang ke AS ketika masih kecil seringkali mengalami berbagai stres.

Bukan saja karena adanya perbedaan persepsi nilai yang hidup di alam bawah sadar orang tuanya yang lahir dan besar di negeri asalnya dengan anaknya yang tumbuh dan besar di AS, tetapi juga adanya jarak kognitif dan intelektual antara anak dan orang tuanya.

Dalam soal budaya misalnya, seorang anak di sekolah, di TK dan SD di AS, sering meminta anak-anak muridnya untuk memelihara kaki dari dinginnya tegel atau lantai di musim dingin.

Anak-anak kadang mengangkat kakinya ke atas meja, walaupun ada orang duduk di depannya. Di negeri asal orang tuanya perbuatan seperti itu boleh jadi dianggap kurang ajar, tetapi di AS, khususnya di musim salju, hal seperti itu biasa dilakukan.

Berita Terkait : Keresahan Orangtua Migran Muslim

Kebiasaan bersikap sopan santun di meja makan sangat dianjurkan. Bersin dan bersendawa di meja makan di negeri asal dianggap sesuatu yang biasa, terutama jika seseorang kurang sehat.

Akan tetapi di AS kebiasaan itu sesuatu yang tercela. Sebaliknya, mengeluarkan ingus, misalnya dengan tisu di meja makan, dianggap sesuatu yang lumrah di AS, tetapi di negeri asal itu dianggap menjijikkan dan tidak pantas dilakukan di depan orang, apalagi di meja makan.

Penulis sendiri suatu saat pernah mempertanyakan kepada guru anak saya ketika masih TK di AS, kenapa yang membersihkan anak saya yang laki-laki di toilet guru laki-laki, sementara anak perempuan dibersihkan oleh guru laki-laki.

Lalu saya dipanggil menghadap oleh kepala sekolahnya, yang seorang PhD, mengatakan, dalam teori psikologi anak-anak perempuan dalam usia 3-5 tahun (phalleage stage) sebaiknya seorang anak diurus oleh guru atau ibu dan anak perempuan ditangani oleh laki-laki atau bapak.

Berita Terkait : Mahalnya Sebuah Demokrasi

Jika tidak maka akan ada masalah selanjutnya pada masa talency stage, 5-remaja. Sangat panjang ia menjelaskan kepada penulis teori psikoanalisa terhadap anak.

Dalam soal agama, anak-anak sering bertanya tentang soal agama kepada orangtuanya di rumah tetapi banyak orangtua yang tidak bisa menjawab pertanyaan keagamaan anaknya karena dua faktor, yaitu keterbatasan pemahaman keagamaan orang tua yang memang mungkin bukan berasal dari latar belakang pendidikan agama atau santri, atau kemampuan bahasa Inggris orang tuanya yang terbatas hanya menguasai bahasa teksin di pekerjaannya, sementara bentuk pertanyaan anaknya menggunakan vocabulari yang tidak umum di telinga orang tuanya dan mungkin tidak faham artinya.

Akhirnya orangtua kadang menyederhanakan persoalan ini dengan mengatakan tidak tahu atau nggak usah tanya soal itu, yang penting shlat atau praktekkan kebiasaan ibadah rutinnya saja.

Padahal anak-anak sangat penasaran karena pelajaran agama di sekolah di AS tidak ada. Anak-anak biasanya ingin mempersoalkan keberadaan Tuhan dan alam semesta, yang sudah barang tentu menggunakan bahasa sains dan bahasa agama yang tidak dikuasai orang tuanya.

Berita Terkait : Sikap Keagamaan: Antara AS Dan Perancis

Akibatnya, anak-anak mendapatkan penjelasan dari aktivis gereja yang memang amat banyak di AS. Mungkin orang yang memberikan jawaban tidak bermaksud mengajak anak itu untuk pindah agama, hanya ingin menjelaskan pertanyaan dengan menggunakan perspektif Kristen atau agama lain.

Akibatnya anak-anak muslim lebih banyak mendapatkan masukan dari orang lain daripada di lingkungan keluarganya yang beragama Islam. Bisa terjadi anak-anak migran muslim mendapatkan penjelasan agama dari orang Islam tetapi berhaluan keras atau bercorang Timur-Tengah dengan spesifikasi budaya Arabnya.

Akibatnya, pemahaman keislamannya sangat berbeda dengan corak keislaman yang dipraktekkan di dalam lingkungan keluarganya. Akhirnya tidak sedikit anak dan orang tuanya berkonflik karena perbedaan persepsi pemahaman keagamaan dengan orang tuanya.

Bagi sang anak yang paling islami menggunakan cadar, sesuai dengan kata nara sumbernya, sedangkan menurut orangtua dan keluarganya muslim tetapi tidak menggunakan cadar atau bahkan tidak menggunakan jilbab.***