Menggapai Haji Mabrur (2)

Makna Spiritual Haji (2)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Haji adalah sebuah ibadah yang sarat dengan makna sakral, makna provan. Unsur sakral haji dapat dengan mudah terlihat pada pengamalan rukun haji seperti berpakaian ihram menuju padang Arafah untuk melaksanakan wuquf.

Di sana terasa ada tekanan eksternal dan internal untuk mengakui persamaan diri dengan orang lain dan sekaligus menyatakan secara jujur akan segala kelemahan diri.

Semua topeng-topeng kehidupan yang membuat orang lain respek dan hormat, seperti pangkat, jabatan, kebangsawanan, kesarjanaan, dan kekayaan, semuanya berguguran dan tinggallah seorang diri (nafsi-nafsi) sebagai manusia dha’if tanpa daya di hadapan Allah Rabb al-Qadhi.

Berita Terkait : Hakikat Haji Mabrur

Selanjutnya bermalam di Muzdalifah sambil memungut batu-batu kecil untuk persiapan keesokan harinya untuk melempar jumrah.

Setelah itu dilanjutkan dengan thawaf dan sa’yi di Masjid Haram. Makna provan haji dengan mudah dapat terlihat dengan terciptanya suasana interaksi antara berbagai etnik, seoalah di Padang Arafah dan di Pelataran Ka’bah tidak ada lagi sekat kewarganegaraan.

Puncak-puncak budaya dan kearifan lokal tampak bagaikan pelangi melingkari Baitullah. Sulit menemukan suatu tradisi besar yang mampu mengedit antara nilai-nilai sakral dan nilai-nilai provan secara simetris begitu indah selain pelaksanaan haji.

Berita Terkait : Memahami Makna Makkah dan Bakkah

Beruntunglah orang-orang yang mendapatkan undangan menunaikan ibadah haji, walau hanya sekali dalm hidupnya.

Kalangan ahli tarekat memaknai ibadah dan simbol-simbol haji lebih dalam dari sekedar penjelasan yang diperoleh saat mengikuti manasik haji.


Sebagai contoh, Bait Allah (baca: Baitullah) secara lahiriah di Mekkah untuk mengunjunginya memerlukan dimensi waktu dan tentunya biaya. Secara batiniah Baitullah bisa hadir atau dapat dihadirkan setiap saat di dalam kalbu.
 Selanjutnya