Menggapai Haji Mabrur (5)

Asal Usul Ibadah Haji

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ibadah haji mungkin merupakan awal dari semua ibadah ritual dalam bentuk formal dalam sejarah umat manusia, mungkin juga untuk makhluk spiritual lain seperti malaikat.

Bermula ketika malaikat mempertanyakan kebijakan Tuhan tentang rencana penciptaan manusia sebagai makhluk pendatang baru dan sekaligus akan ditunjuk sebagai khalifah di jagat raya, sebagaimana diungkapkan dalam ayat: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senan- tiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarah/2:30).

Di dalam kitab-kitab kuning dilukiskan malaikat merasa bersalah dengan pertanyaan itu lalu mereka memohon ampun dengan cara mengelilingi ‘Arasy, istana Tuhan, sambil menangis selama 40 hari.

Berita Terkait : Mengenang Drama Kosmik

Selama 40 hari Tuhan tidak menyapa malaikat. Hari ke-41 Tuhan membuatkan miniatur ‘Arasy di Baitul Makmur dan di sanalah para malaikat diminta melanjutkan thawafnya. Di sana pula Adam dan Hawa ikut serta melaksanakan thawaf.

Thawaf merupakan bentuk ibadah tertua yang juga dilakukan oleh seluruh makhluk makrokosmos, seperti planet dalam galaksi Bima Sakti. Ketika Adam dan Hawa melakukan pelanggaran di syurga, dengan memakan buah khuldi yang terlarang, maka keduanya diturunkan ke bumi.

Permohonan pertama keduanya di bumi ialah minta dibangunkan rumah pertobatan, seperti pernah ia laku- kan bersama para malaikat di Baitul Makmur. Lalu Allah SWT memerintahkan malaikat membangunkan miniatur Baitul Makmur dalam bentuk ka’bah di Mekkah.


 Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Q.S. Ali Imran/3:96).

Berita Terkait : Memahami Simbol-simbol Haji

Ka’bah dibangun dalam garis simetris dengan Baitul Makmur dan ‘Arasy. Ka’bah merupakan pusat grafitasi spiritual yang selalu dikitari makhluk Tuhan sejak awal kejadiannya hingga sekarang.

Bahkan dalam riwayat disebutkan, ketika bumi tenggelam dalam banjir Nuh, maka Nabi Nuh tetap melakukan thawaf di sekitar ka’bah dengan menggunakan perahu.

Setelah banjir surut barulah Nuh dan umatnya yang saleh melanjutkan thawaf dengan jalur darat. Sebagai pusat grafitasi spiritual, ka’bah memiliki daya sedot batin luar biasa. Setegar apapun seseorang pasti luluh dan hanyut di depan ka’bah.

Itulah sebabnya juga mengapa shalat di depan ka’bah 300.000 lebih utama dari pada shalat di luar kompleks ka’bah kata Rasulullah.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Kabah (1)

"Allah SWT menciptakan kawasan ka’bah dengan penuh berkah sebagaimana disebutkan dalam ayat: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Al-Isra’/17:1).

Makna sufistik ibadah haji dapat difahami setelah memahami rahasia penciptaan ka’bah. Ibadah haji merupakan rukun Islam ke lima yang memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaan itu ialah pengampunan dan pemutihan dosa masa lampau bagi mereka yang berhasil meraih haji mabrur.

Kesempurnaan keislaman seseorang ditandai dengan pelaksanaan rukun Islam kelima ini. Selama orang yang mampu dari berbagai persyaratan lantas belum menunaikan ibadah haji maka belum bisa disebut sebagai muslim sejati.***