Menggapai Haji Mabrur (6)

Mengenang Drama Kosmik

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dari asal-usul ibadah haji difahami bahwa ternyata drama kosmik terkait erat dengan pelaksanaan ibadah haji.

Pada mulanya manusia beralamat di alam ketinggian syurgawi, seperti hunian para malaikat dan jin, sebagaimana dilukiskan dalam ayat: ”Semua bisa dinikmati kecuali satu, yaitu mendekati pohon keabadian (khuldi).

“Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim”. (Q.S. Al-A’raf/7:19).

Adam dan Hawa terus menerus digoda Iblis dengan berbagai dalih. Antara lain dalih itu ialah, Adam dan Hawa dilarang memakan buah pohon keabadian itu karena jika engkau memakannya maka engkau akan hidup abadi di syurga, padahal Allah SWT bermaksud memindahkanmu di bumi penderitaan, di dunia ini.

Berita Terkait : Memahami Simbol-simbol Haji

Ada sekelompok ulama tafsir mengatakan ayat itu ayat metaforis. Yang sesungguhnya dilarang itu ialah berhubungan sebagaimana layaknya suami istri yang kemudian melahirkan keturunan.

Ini bisa difahami dari ayat berikutnya: “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (Q.S. Al-A’raf/7:20).

Setelah keduanya melakukan pelanggaran maka reaksi pertama yang mereka sadari ialah: “Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.

Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”. (Q.S. Al-A’raf/7:22).

Berita Terkait : Asal Usul Ibadah Haji

Setelah itu keduanya baru sadar bahwa dirinya tertipu oleh Iblis. Keduanya sadar dan terus memohon maaf kepada Allah SWT dengan doa yang diabadikan di dalam Al-Qur’an: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-A’raf/7:23).

Akibat lanjutan dari pelanggaran itu, keduanya jatuh ke bumi penderitaan meninggalkan syurga kenikmatan.

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. (Q.S. Al- A’raf/7:24).

Dalam kegalauan dan penyesalannya, anak manusia ini terus memohon ampun kepada Allah SWT agar dinaikkan kembali ke kampung halamannya di syurga.

Berita Terkait : Memahami Makna Makkah dan Bakkah

Keduanya juga memohon rumah pertobatan sekaligus rumah ibadah kepada Allah SWT seperti Baitul Ma’mur yang pernah diberikan kepada malaikat.

Akhirnya Allah SWT mengabulkan doanya dan malaikat diperintahkan untuk membangunkan rumah pertobatan di bumi bernama ka’bah di Mekkah, sebagaimana dijelaskan di dalam QS. Ali Imran/3:96: ”Sesungguhnya rumah mula-mula dibangun untuk (untuk tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi penunjuk bagi semua manusia”).

Bangunan suci ini merupakan ”surat undangan” Tuhan untuk kembali ke syurga. Allahu a’lam. ***