Menggapai Haji Mabrur (8)

Memahami Makna Simbolik Haji: Kabah (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ka’bah yang biasa disebut Baitullah (rumah Allah) adalah makhluk syurga yang diutus untuk menjemput anak manusia di bumi penderitaan kembali ke syurga kenikmatan. Ka’bah juga berfungsi untuk menenangkan kembali hati dan pikiran Adam dan Hawa beserta anak cucunya.

Yang lebih penting Ka’bah mendekatkan kembali anak manusia setelah berjauhan dari Tuhannya. Tidak ada bentuk penderitaan paling pedih selain hamba berjarak dengan Tuhannya.

Itulah sebabnya Allah Swt menurunkan sebuah ayat dalam rangkaian drama kosmik di dalam surah Al-A’raf berikut ini: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al-A’raf/7:26). Setelah tersesat karena pelanggaran dalam drama kosmik, Adam dan Hawa menutupi aurat sebagai simbol dosa dan kemaluan.

Penutup aurat dan sekaligus dilengkapi den- gan perhiasan dan aksessoris ialah pakaian ketakwaan (libas al-taqwa). Pakaian ketakwaan inilah yang mampu menutupi aurat kelemahan dan dosa kita sebagai umat manusia. Ingat kembali ketika kita mandi ihram sebelum menunaikan haji.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Ka`bah (2)

Kita telanjang bulat. Kemudian kita membersihkan diri den- gan air dalam bentuk mandi sunat untuk ihram. Setelah itu kita menggunakan pakaian khusus yang membalut lekuk-lekuk tubuh kita. Sepotong kain ihram putih tak berjahit, sekaligus mengingatkan kita sebagai pakaian di dalam liang lahat.

Tidak ada satupun menyertai kita selain selembar kain itu. Tidak ada atribut dan tanda pangkat dan jabatan. Tidak ada juga berbagai jenis harta kekayaan yang kita miliki. Pakaian ketakwaan tidak pernah hancur bersama hancurnya tubuh sekalipun.

Pakaian ini yang menyertai dan sekaligus membela kita sepanjang zaman di akhirat kelak. Pelajaran berharga yang kita peroleh dari drama kosmik ini ialah kita tidak boleh jatuh di dalam lubang yang sama seperti kata pepatah.

Ayat Al-Qur’an juga menyatakan hal yang sama: “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.

Berita Terkait : Memahami Simbol-simbol Haji

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa meli- hat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-A’raf/7:27).

Peringatan Allah SWT di atas akan sangat terasa jika kita berada di dalam rangkaian ibadah haji. Di situ secara psikologis kita berada di dalam sebuah alam yang lain. Kita bisa bepergian ke tempat-tempat istimewa di seluruh penjuru dunia, termasuk ke planet lain dengan pesawat ulang-alik sekalipun, namun kita tidak pernah merasakan perasaan seperti ketika kita sedang menunaikan ibadah haji.

Betapa tidak, ibadah haji itu merupakan miniatur perjalanan kosmik. Kita sedang menjadi aktor atau aktris di dalam drama kosmik itu. Perjalanan ibadah haji bagaikan napak tilas siklus perjalanan kosmik.

Kita seolah menjadi pemeran utama di dalam drama kosmik itu. Dan yang amat penting, kita terasa berada di dalam perjalanan pulang ke kampung hala- man rohani kita di syurga, tempat nenek moyang kita Adam dan Hawa diciptakan. Tempatnya para Nabi dan para kekasih Tuhan yang lainnya.

Berita Terkait : Mengenang Drama Kosmik

Bahkan kita pun merasa bagian dari kekasih Tuhan yang diundang secara khusus ke rumahNya, Baitullah, rumah pembebasan (Bait al-‘Atiq). Subhanallah! ***