Rekrut Rektor Asing, Ide Ngawur!

Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Proses belajar mengajar di perguruan tinggi merupakan interaksi saling terkait 5 faktor/variabel berikut: faktor dosen, mahasiswa, prasarana, peraturan dan lingkungan.

Dosennya berkualitas tidak? Bisa mengajar (secara profesional) secara efektif tidak? Bagaimana kapabilitas dan motivasi mahasiswa? Sarana dan prasarana PT memadai tidak? Bagaimana tata kelola/peraturan yang mengikat jalannya proses belajar-mengajar?

Terakhir, bagaimana kultur atau lingkungan makro universitas yang bersangkutan? Wacana merekrut Rektor asing hanya menyentuh satu dari lima faktor/aspek itu.

Oleh sebab itu, berharap kualitas universitas Indonesia akan melambung tinggi jika dipimpin oleh Rektor asing hanya sebuah MIMPI, sekaligus menunjukkan wacana yang O’on!

Jika wacana itu datang dari Menteri Ristekti, hal itu pertanda Menteri kita tidak memiliki kemampuan untuk mengelola dunia pendidikan tinggi! Memang Rektor memainkan peran krusial bagi perkembangan sebuah perguruan tinggi.

Berita Terkait : Merdeka dari Prabu Joko

Dalam ilmu manajemen diajarkan tanggung jawab utama berhasil tidaknya sebuah organisasi, termasuk Negara organisasi terbesar yang dikenal manusia terletak di pundak pimpinan tertinggi organisasi itu.

Jika negara makin mundur, jika bangsa makin miskin dan makin kacau kehidupannya, yang paling bertanggung jawab adalah Presidennya. Jika banyak terjadi praktek plagiat atau ijazah palsu di sebuah universitas, Rektornya harus dicopot karena dialah yang paling bertanggung jawab atas praktek-praktek a moral di dalam universitas yang dipimpinnya itu.

Namun, Rektor bukan faktor segalanya. Jika dosen, umumnya, tidak berkualitas atau bermotif seperti kuli di Tanjung Priok, sekadar kerja untuk memenuhi sesuap nasi dapur keluarganya, universitas sampai kiamat takkan mencapai peringkat tinggi.

Banyak sekali dosen Indonesia yang malas membaca. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk “main HP” ketimbang membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Mungkin 75% dosen Indonesia malas membaca, karena masuk dalam tipe “kuli Tanjung Priok”.

Bagaimana Anda bisa jadi pengajar yang cakap jika otak Anda tidak terus menerus diisi ilmu melalui hobi membaca literatur dan hasil-hasil penelitian? Waktu mengajar, banyak dosen kita hanya menayangkan slides yang sudah disiapkan, lalu membacakannya satu per satu.

Berita Terkait : Pindahnya Ibukota Singgelo Puro

“Ada pertanyaan, saudara-saudara?” tanya dosen di akhir kuliah. Di PT-PT berkualitas di negara-negara maju, dosen umumnya mengajar “di luar kepala”. Yang dibawa paling beberapa lembar kertas berisikan pointers penting.

Selebihnya, mereka bicara bak air mengalir dari atas ke bawah, pengetahuan yang diajarkan kepada mahasiswa betul-betul sudah melotok di benaknya. Dosen yang mengajar di sana-sini juga merusak kualitas universitas.

Mengapa mereka harus mengajar di 3-4 universitas, karena untuk “kejar setoran” bukan? Maka, faktor gaji/honor juga ikut menentukan kualitas universitas. Sekitar 80% universitas di negara kita membayar gaji/honor dosennya tidak memadai, bahkan menyedihkan. Mau rekrut Guru Besar tetap, tapi cuma mampu membayar 7-10 juta/bulan. Edan kan?

Mengajar di pasca cuma ditawarkan honor Rp 750.000 sekali ngajar/3 sks. Gaji Rektor juga rata-rata memalukan.Di negara-negara maju, gaji dosen/profesor tergolong tinggi, sebab Profesor adalah job yang tinggi harkatnya, hampir setara dengan ahli hukum, anggota Mahkamah Agung, anggota Kongres.

Kecuali gaji, mereka juga tidak sulit mendapatkan grant untuk melakukan penelitian. Maka, waktu liburan musim panas, banyak profesor yang tidak mengajar, tapi melakukan riset atau menulis buku. Bagaimana di negara kita?

Berita Terkait : Rebutan Wewenang Mayapada

Berapa banyak dosen yang mampu menulis buku ilmiah atau mengadakan riset? Memang, dosen kita malas menulis buku juga disebabkan honor yang kecil dari penerbit, tidak “merangsang” imbalannya.

Bisnis penerbitan buku di Indonesia pun kini kembang kempis. Puluhan, bahkan ratusan penerbit sudah gulung tikar. Buku teks? Penerbit sekelas Gramedia pun kini sangat-sangat jarang bersedia menerbitkannya, karena tidak laku alias tekor.

Jadi, kompleks permasalahannya.Banyak sekali dosen pembimbing skripsi/thesis/disertasi yang sesungguhnya tidak paham metodologi penelitian dan penulisan karya ilmiah. Karya akhir yang “berwatak” plagiat berjubel.

Dosen, misalnya, tidak paham apa itu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Jika mahasiswa melakukan kutipan langsung (direct quotation), ada kaedah-kaedah yang wajib ditaati. Jika tidak, maka karya Anda itu bisa masuk dalam ranah PLAGIAT.
 Selanjutnya