Menggapai Haji Mabrur (9)

Memahami Makna Simbolik Haji: Ka`bah (2)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di hadapan Ka’bah, kita semua merasakan seperti satu keluarga besar. Semuanya merasa kembali ke kampung halaman rohani masing-masing.

Di sana tidak ada lagi kotak etnik, gender, umur, kewarganegaraan, pimpinan bawahan, jenderal-prajurit, tuan / nyonya-majikan, Arab-non Arab, Timur-Barat, hitam-putih, pendosa-ahli ibadah, dan lain-lain.

Di halaman Ka’bah tidak ada lagi atribut sosial, politik, kelas, intelektual, dan jenis kelamin. Bahkan tidak ada lagi atribut spiritual-psikologis.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Kabah (3)

Semuanya merasa sama sebagai “Keluarga Allah”, umat Nabi Muhammad, dan tidak ada lagi atribut “orang lain”. Persis sama yang dikatakan Nabi: “Bagaikan satu anggota badan, jika satu bagian sakit maka yang lain ikut sakit”.

Diharapkan dengan penunaian haji dan atau umrah kita sudah menyimpan memori simbolik berupa suasana batin, yaitu bagaimana rasanya kita hadir dan tersungkur di Baitullah, di depan Ka’bah, seolah-olah kita berada di sebuah alam yang amat lain dengan alam syahadah yang selama ini menyelimuti diri kita.


Sungguhpun di sana kita berdesak-desakan karena begitu padatnya umat Islam, tetapi pada saat yang bersamaan kita juga merasakan kelapangan dada untuk mengerti sekaligus memaafkan semuanya, sungguhpun ada di antara mereka yang betul-betul menyenggol dan menyakiti badan, tetapi terasa tidak ada dendam dan amarah.

Berita Terkait : Ketika Agama Dirasakan Tak Lagi Mencerahkan

Ini menggambarkan saat orang sedang bertawajjuh dengan Tuhannya, semuanya terasa lapang dan tidak ada ganjalan dan sumbatan. Karena itu, sebelum kita menuju ke hadapan Baitullah terlebih dahulu kita menanggalkan simbol-simbol keduniaan dan alam syahadah kita berupa pakaian dan atribut sosial-budaya kita.

Yang tersisa hanya uniform ihram yang melekat di badan berupa kain putih polos. Ini juga melambangkan bahwa siapapun yang ingin mencapai puncak tawajjuh ia juga harus menanggalkan atribut keduniawian yang menghijab dirinya selama ini.

Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati lebih dalam firman Allah Swt: “Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Baqarah/2:149). Semoga para hujjaj semuanya menggapai tujuan (alhajj), yaitu Haji Mabrur, haji yang dijanjikan dengan syurga jannah al-na’im (taman spiritual yang penuh kelezatan).

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Multazam

Haji sebagai arena muktamar umat Islam terbesar di dunia, berkumpul di depan sebuah bagunann hitam bersegi empat, betul-betul menjadi muara dan sekaligus pusat grafitasi spiritual yang mengikis habis ego-ego individu dan sosial. Betapa tidak, semua umat Islam di manapun berada dan apapun status sosialnya sama-sama harus harus menghadap ke Kiblat di dalam beribadah, terutama shalat. Bahkan dikatakan tidak sah shalat atau penyembahan seseorang jika tidak mengetahui dan meyakini kiblatnya.

Doa iftitah yang diikrarkan saat memulai shalat kita menyebut ayat: “Inni wajahtu wajhiya lillati fatharas samawati wal ardha hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin” (Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. alAn’am/6:79).


Doa iftitah dan penegasan ayat ini menekankan pentingnya segenap diri kita yang berlapis-lapis ini menghadap (tawajjuh) kepada Allah Swt yang kualitasnya disimbolkan kepada Ka’bah atau Baitullah. Allahu a’lam. ***