Menggapai Haji Mabrur (10)

Memahami Makna Simbolik Haji: Kabah (3)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Nama lain dari Ka’bah ialah rumah pembebasan (Bait Al-‘Atid). Disebut demikian karena kehadiran bangunan suci Ka’bah sesungguhnya adalah symbol pembebasan.

Ketika Adam dan hawa melanggar peraturan surga lalu keduanya dijatuhkan ke bumi penderitaan dari langit kebahagiaan. Pada saat itulah Allah SWT menginstruksikan malaikat untuk membuatkan rumah pertobatan atau rumah pembebasan bagi Adam dan Hawa.

Ka’bah adalah makhluk syurgawi yang diutus untuk menjemput anak manusia di bumi penderitaan untuk kembali ke syurga kebahagiaan. Ka’bah berfungsi untuk menenangkan kembali hati dan pikiran Adam dan Hawa beserta anak cucunya yang jiwanya bergejolak sebagai kekhilafan yang baru dilakukannya.

Ka’bah mengembalikan semangat hidup dan semangat juang Adan dan Hawa. Di harapkan anak cucunya pun juga merasakan hal yang sama setelah menunaikan ibadah Haji. Ka’bah atau Bait al-‘Atiq, mendekatkan kembali anak manusia setelah berjauhan dari Tuhannya.

Berita Terkait : Ketika Agama Dirasakan Tak Lagi Mencerahkan

Tidak ada bentuk penderitaan paling pedih selain hamba berjarak dengan Tuhannya.

Itulah sebabnya Allah SWT menurunkan sebuah ayat dalam rangkaian drama kosmik di dalam surah al-A’raf berikut ini: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagiaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-muda- han mereka selalu ingat. (Q.S. Al-A’raf/7:26).

Jalan penyelamatan setelah tersesat karena pelanggaran ialah menutupi aurat sebagai simbol dosa dan kemaluan. Penutup aurat dan sekaligus dilengkapi dengan perhiasan dan aksessoris ialah pakaian ketakwaan (libas al-taqwa).

Pakaian ketakwaan inilah yang mampu menutupi aurat kelemahan dan dosa kita sebagai umat manusia. Renungkan kembali ketika kita mandi ih- ram sebelum menunaikan haji. Kita telanjang bulat.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Ka`bah (2)

Kemudian kita membersihkan diri dengan air dalam bentuk mandi sunat untuk ihram. Setelah itu kita menggunakan pakaian khusus yang membalut lekuk-lekuk tubuh kita. Sepotong kain ihram putih tak berjahit, sekaligus mengingatkan kita sebagai pakaian di dalam liang lahat.

Tidak ada satupun menyertai kita selain kelembar kain itu. Tidak ada atribut dan danda pangkat dan jabatan. Tidak ada juga berbagai jenis harta kekayaan yang kita miliki.

Pakaian ketakwaan tidak pernah hancur bersama hancurnya tubuh sekalipun. Pakaian ini yang menyertai dan sekaligus membela kita sepanjang zaman di akhirat kelak. Pelajaran berharga yang kita peroleh dari drama kosmik ini ialah kita tidak boleh jatuh di dalam lubang yang sama seperti kata pepatah.

Ayat Al-Qur’an juga menyatakan hal yang sama: “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Kabah (1)

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah men- jadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Q.S. Al-A’raf/7:27).

Perjalanan ibadah haji bagaikan napak tilas siklus perjalanan kosmik. Kita seolah menjadi pemeran utama di dalam drama kosmik itu. Dan yang amat penting, kita terasa berada di dalam perjalanan pulang ke kampung halaman rohani kita di syurga, tempat nenek moyang kita Adam dan Hawa diciptakan.

Tempatnya para Nabi dan para kekasih Tuhan yang lainnya. Bahkan kita pun merasa bagian dari kekasih Tuhan yang diundang secara khusus ke rumah-Nya, Baitullah, ru-mah pembebasan (Bait Al-‘Atiq). ***