Menggapai Kemabruran Haji (13)

Memahami Makna Simbolik Haji: Hajar Aswad

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hajar Aswad ialah batu pualam berwarna hitam yang menempel di sudut kanan dinding Ka’bah. Secara harfiah, kata hajar aswad berarti batu hitam. Hajar Aswad sesungguhnya tidak hitam pekat tetapi lebih kepada hitam kemerah-merahan yang menempel di sudut selatan, sebelah kiri pintu Ka’bah. Ketinggiannya 1,10 m dari permukaan tanah Ka'bah. 

Hajar Aswad dahulu berupa satu batu yang berdiameter kurang lebih 30 cm. Namun karena faktor usia, beberapa kali mengalami pemugaran Ka'bah, banjir di zaman Nuh yang menghancurkan bangunan awal Ka'bah, ditambah lagi pencongkelan paksa batu ini oleh kelompok-kelompok sempalan dengan berbagai kepentingan, membuat batu itu pecah berkeping-keping. 

Sekarang kepingan-kepingan batu itu terpasang rapi di dalam sebuah bingkai cekung, yang seukuran dengan kepala manusia. Ada yang mengatakan masih ada delapan keping seukuran biji korma ditanam di dalam bingkai Hajar Aswad. 

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Thawaf (2)


Pada mulanya, Hajar Aswad disebutkan dalam hadis riwayat Tirmizi, Rasulullah Saw pernah bersabda “Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu. Lalu, dosa-dosa Bani Adam lah yang membuatnya hitam.” 

Pendapat lain pernah dilontarkan oleh Prior-Hey, seorang geolog, pada tahun 1953 memublikasikan Catalog of Meteorites yang telah bertahun disusunnya, mengatakan bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor. 

Anggapan Prior-Hey bersumber dari pendapat Kahn, seorang geolog lainnya, pada tahun 1936 berpendapat Hajar Aswad adalah meteorit aerolit, yakni meteorit yang tersusun oleh senyawa-senyawa penyusun batuan dan tidak didominasi oleh Besi dan Nikel yang berlimpah sebagaimana halnya meteorit besi. 

Berita Terkait : Memaknai Makna Simbol Haji: Thawaf (1)

Pada masa Nabi Ibrahim a.s, bersama putranya, Nabi Ismail, berusaha memugar Ka'bah kembali dengan meninggikan bangunannya dan mengangkut batu dari berbagai gunung. Setelah bangunan Ka’bah hampir selesai, Nabi Ibrahim masih merasa kekurangan sebentuk batu untuk diletakkan di Ka'bah sesuai dengan bentuk aslinya. 


Nabi Ibrahim meminta pada anaknya, Nabi Ismail, “Pergilah engkau mencari batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.” Nabi Ismail menemukan batu itu lalu Nabi Ibrahim AS bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini? 

Nabi Ismail menjawab: “Batu ini aku terima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).” Setelah Hajar Aswad diletakkan di sudut dinding Ka'bah, Nabi Ibrahim mencium batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail AS. Hingga sekarang Hajar Aswad itu tidak pernah sepi dari ciuman jamaah haji dan umrah. 

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Maqam Ibrahim

Siapa saja yang bertawaf di Ka’bah disunnahkan mencium Hajar Aswad. Kisah tragis yang pernah menimpa Hajar Aswad ialah pencongkelan batu suci ini dilakukan pasukan Abu Thahir Al-Qurmuthi, salah seorang Raja Dinasti Qaramithah, dari golongan Syi’ah Ismailiyah Jazirah Arab bagian timur, dengan kekuatan 700 orang tentara bersenjata lengkap, mendobrak Masjid Al-Haram dan membongkar Ka’bah secara paksa lalu mencongkel Hajar Aswad dan mengangkut ke negaranya di kota Ahsa’, wilayah Bahrain. 

Ia membuat maklumat yang menantang umat Islam, dengan mengatakan jika ingin mengambil Hajar Aswad, tebuslah dengan sejumlah uang yang pada saat itu sangat berat bagi umat Islam atau dengan perang. 


Baru setelah 22 tahun (tahun 339 H) batu itu dikembalikan ke Mekah oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’ lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 Dinar. Mereka membawanya ke Kufah, lalu menggantungkannya ke tiang ke tujuh Masjid Jami’. Setelah itu, mereka mengembalikannya ke tempat semula di dinding Ka'bah seperti tampak sekarang ini. ***

RM Video