Menggapai Kemabruran Haji (16)

Memahami Makna Simbolik Haji: Maqam Ibrahim

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:97).

Kata maqam Ibrahim dalam ayat di atas bukanlah kuburan Nabi Ibrahim. Maqamnya ada di Hebron, negeri Palestina yang dikuasai Israel sekarang.

Maqam Ibrahim adalah tempat pijakan kaki Nabi Ibrahim ketika merehab atau membangun Ka’bah.

Konon ketika meninggikan dinding Ka’bah untuk mencapai ketinggian tertentu, Putranya, Nabi Ismail, mengambilkan sebongkah batu sebagai tempat pijakan, tetapi keajaiban terjadi karena batu tempat pijakan kedua telapak kaki itu berlubang, menyerupai pahatan, dengan panjang 22x11 sentimeter.

Ukuran telapak kaki seperti ini lebih kurang sama dengan ukuran kaki normal manusia modern saat ini.

Berita Terkait : Memaknai Makna Simbol Haji: Thawaf (1)

Konon juga bertambah tinggi bangunan dinding Ka’bah bertambah tinggi pula batu tempat pijakan itu.

Kini “prasasti” itu dapat disaksikan di dalam kotak kaca yang berdiri di depan pintu Ka’bah.

Bangunan Maqam Ibrahim sekarang sangat kokoh. Ditabrak dan ditarik oleh orang banyak pun tidak akan rebah atau rusak. Bangunannya juga diamankan dengan jeruji besi dan kaca tebal yang kokoh.

Maqam Ibrahim berdekatan dengan Multazam sehingga sering juga digunakan shalat dan berdoa para jamaah haji dan umrah di arah tempat ini.

Dalam lintasan sejarah, Maqam Ibrahim sering dijadikan incaran para pemimpin qabilah dan pemegang kekuasaan, seperti halnya Batu Hitam (Hajar Aswad) yang menempel di Ka’bah pernah dicongkel oleh sekelompok orang dari Dinasti Qaramithah.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Hijir Ismail

Ada juga ide untuk menjauhkan Maqam Ibrahim den- gan Ka’bah untuk menghilangkan kemungkinan orang menyembah atau mengkultuskan Maqam Ibrahim. Obyek ini sudah mengalami beberapa perubahan bentuk dan tempat.

Semula Maqam Ibrahim menurut kalangan ahli sejarah Saudi Arabiah, menempel di dinding Ka’bah seperti halnya Hajar Aswad, tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, batu ini dipisahkan dengan dinding Ka’bah dan digeser ke belakang Ka’bah.

Semula Maqam Ibrahim ini diletakkan di sebuah ban- gunan lemari perak berukuran 6x3 meter, kemudian dibuat dalam kotak ukuran lebih kecil (180x130 centimeter = 2,34 meter), karena menghalangi arus thawaf.

Perubahan ini melalui hasil kesepakatan pemimpin umat Islam melalui Rabitah Al-Alam Al-Islami (Or- ganisasi Konferensi Islam/OKI) pada 1387 Hijriyah. Jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka'bah dan Hajar Aswad 14,5 meter.

Dari Rukun Yamani 14 meter, dan dari sudut talangan air 13,25 meter. Maqam Ibrahim dalam perspektif tasawuf dimaknai tidak hanya secara fisik tetapi lebih ditekankan kepada makna simboliknya sebagai “Pendirian Ibrahim” yang monoteistik (tauhid).

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Multazam

Seperti diketahui, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai “Bapak Monotesme” (The Father of Monotheism).

Nabi Ibrahim melahirkan keturunan penganjur tegas ajaran monoteisme, yaitu Nabi Musa yang diamanati menganjurkan agama Yahudi dengan Kitab Sucinya Taurat, kemudian Nabi Isa yang diamanati menganjurkan agama Nashrani dengan Kitab Sucinya Injil, dan terakhir Nabi Muhammad SAW dari jalur Nabi Islamil, diamanati sebagai penganjur agama Islam dengan Kitab Sucinya Al-Qur’an.

Bagi para penziarah Ka’bah, diharapkan meneguhkan dan mengokohkan pendirian ajaran monoteisme sebagaimana dianjurkan Nabi Ibrahim, yang merelakan dirinya terancam dengan berbagai ancaman. Allahu a’lam. ***