Merdeka dari Prabu Joko

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Seokarno telah berhasil mengantarkan rakyat Indonesia ke gerbang pintu Kemerdekaan. Pada zaman Soekarno, fokus pembangunan Indonesia adalah pembenahan sistem politik.

Seokarno selain dikenang sebagai Bapak Proklamator, dikenal sebagai orator politik ulung. Presiden Soeharto melanjutkan pembangunan dengan menitikberatkan pada kebutuhan papan, sandang, dan pangan.

Di era Orde Baru Seoharto dikenang sebagai Bapak Pembangunan Bangsa. Memasuki zaman Reformasi siapa pun presidennya akan menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Baik perubahan sistem politik, ekonomi dan budaya.

Berita Terkait : Pindahnya Ibukota Singgelo Puro

Pemimpin pasca reformasi harus cerdas membaca tanda-tanda zaman. “Sampeyan mau dikenang sebagai Bapak apa, Mo?” celetuk Petruk. Romo Semar tidak menjawab pertanyaan Petruk.

Semar bangga dan senang melihat masyarakat begitu antusias merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia yang Ke-74. Masyarakat dengan penuh semangat mengikuti berbagai lomba yang diadakan di kampung masing-masing.

Luapan kegembiraan merayakan hari kemerdekaan mengingatkan Semar pada kebebasan rakyat Eka Cakra dari cengkeraman Prabu Boko. Kocap kacarito. Para Pandawa lolos dari percobaan pembunuhan yang dilakukan Kurawa dalam peristiwa Bale Gala-Gala.

Berita Terkait : Rebutan Wewenang Mayapada

Kurawa yang dimotori Sengkuni ingin melenyapkan Pandawa agar tidak menuntut kekuasaan Hastina. Politik kotor Sengkuni tercium oleh Yama Widura.

Sebagai paman dari Pandawa, Yama Widura tidak ingin Pandawa jadi korban permainan politik kotor Sengkuni dan Kurawa. Pada tengah malam sebelum pecah kobaran api Bale Gala-Gala, Yama Widura berhasil mengevakuasi Pandawa dan Ibu Kunti ke tempat yang aman.


Pelarian Pandawa sampai ke kerajaan Eka Cakra. Sebuah kerajaan kecil sebelah timur kerajaan Mandura dipimpin oleh Prabu Boko. Prabu Boko di kenal sebagai raja raksasa yang tega memangsa rakyatnya sendiri.
 Selanjutnya