Menggapai Kemabruran Haji (17)

Memaknai Makna Simbol Haji: Thawaf (1)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mengapa orang harus berthawaf, mengelilingi Ka’bah? Padahal secara fisik Ka’bah hanya bangunan segi empat kecil dan di dalamnya tidak ada benda-benda istimewa kecuali hanya sebuah meja kecil yang di atasnya terletak sebuah lampu rechargable.

Mengapa Ka’bah menjadi kiblat peribadatan umat Islam di bawah seantero bumi? Setiap pengunjung kota Mekah sangat disarankan pertama kali langsung berthawaf dan meninggalkan kota Mekah juga diakhiri dengan thawaf disebut thawaf wada’.

Segalanya bermula ketika malaikat mempertanyakan kebijakan Allah SWT yang ingin menciptakan pendatang baru namanya manusia, yang sekaligus akan menjadi khalifah di muka bumi (khalaif al-ardh), kemudian Allah SWT seperti menyentak “Aku lebih tahu apa yang tidak kalian tidak ketahui” (Q.S. Al-Baqarah/2:30).

Menyadari dirinya bersalah maka para malaikat dalam suatu riwayat menyesali kelancangannya dengan berputar mengelilingi Arasy, istana Tuhan, sambil memohon ampun.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Thawaf (2)

Beberapa waktu kemudian Allah SWT menciptakan miniatur Arasy bernama Bait al-Ma’mur yang dibangun di bawah ‘Arasy. Di situlah para malaikat melanjutkan pengabdiannya kepada Allah SWT yang diikuti juga oleh planet-planet di jagat raya.

Di tempat ini pula Adam dan Hawa diciptakan kemudian ikut melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan meniru pola pengabdian malaikat dan planet, yaitu berthawaf mengitari Bait Al-Ma’mur.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya giliran Adam dan Hawa melanggar perintah Allah SWT, keduanya dilarang menghampiri pohon khuldi, tetapi karena godaan Iblis maka keduanya melanggar lalu keduanya dibuang ke bumi penderitaan.

Penyesalan yang amat mendalam terhadap kekeliruan ternyata mengundang perhatian dan kasih Tuhan.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Maqam Ibrahim

Penyesalan tersebut menjadi faktor dibangun- nya Ka’bah sebagai simbol suci dan rumah pertobatan pertama bagi umat Islam (QS. Ali Imran/3: 96), yang kemudian terealisasi menjadi rukun Islam kelima, yaitu penunaian ibadah haji bagi mereka yang memenuhi syarat dan kemampuan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Adam diusir dari surga ke bumi, ada satu hal yang paling ia sedihkan, yaitu Adam tidak bisa lagi mengikuti ibadah para malaikat berthawaf mengelilingi ‘Arasy, singgasana Allah, kemudian Adam dihibur dengan dibangunnya Ka’bah sebagai Baitullah, miniatur ‘Ara- sy di bumi, lalu Adam diperintahkan berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Thawaf adalah cara ibadah menirukan malaikat mengelilingi ‘Arasy, dan ternyata seluruh makhluk makrokosmos di jagat raya juga melakukan “thawaf” yang sama.

Misalnya bulan dan bumi berthawaf mengelilingi matahari, dan matahari beserta seluruh familinya juga berthawaf mengelilingi pusat galaksi, yang oleh para astronom disebut Milky Way atau Galaksi Bimasakti.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Hijir Ismail

Mereka semua dengan setia menyembah kepada Allah Swt sebagaimana dalam firman-Nya: Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?

Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Sajadah/22: 18).

Planet-planet yang ada di angkasa raya, dengan tekun beredar di atas rel peredarannya. Sedikit saja planet-planet itu melenceng dari garis edarnya, maka akan menimbulkan perubahan komposisi kimia dalam oksigen, atau berbagai akibat fatal lainnya dalam kehidupan manusia.***