Menggapai Kemabruran Haji (21)

Memahami Makna Simbolik Haji: Misteri Air Zamzam (2)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Para Jamaah haji (hujjaj) sudah mulai berdatangan kembali ke Tanah Air. Harapan kita semua, semoga membawa berkah haji maqbul dan haji mabrur.

Kemaqbulan haji banyak ditentukan di Tanah Suci, tetapi kemabruran haji banyak ditentukan di Tanah Air menuju Mekkah, kita sudah berniat dan bertekad untuk menjadi haji mabrur.

Kita sudah berniat untuk berubah. Dari jalan hidup yang abu-abu ke jalan hidup yang putih, seputih kain ihram. Dari suasana batin yang keruh ke suasana batin yang bening sebening air zam-zam.

Dari jalan pikiran yang bengkok ke pikiran yang lurus, selurus jalan lurus Safa dan Marwa. Dari perilaku yang keras ke perilaku yang lembut selembut tangan yang menyapa hajar aswad.

Dari tutur kata yang kasar ke tutur kata yang halus se- halus bisikan doa kita kepada Tuhan. Tentu masih ingat, ketika kita sedang mengganti pakaian biasa dengan pakaian seragam ihram.

Ini pertanda bahwa kita berikrar menanggalkan atribut egoisme dan memarkir rasa keakuan kita lalu melarutkan diri ke dalam atribut kebersamaan.

Berita Terkait : Mengabadikan Kemabruran Haji (3)

Kita melebur kelas dan status sosial-budaya kita ke dalam ruang dan waktu egaliter. Tidak ada lagi pembantu di samping tuan dan nyonya.

Tidak ada lagi jenderal di samping prajurit. Tidak ada lagi militer di samping sipil. Tidak ada lagi pemimpin, raja, dan presiden di samping rakyat. Tidak ada lagi konglomerat di samping rakyat miskin.

Tidak ada lagi pemilik modal di samping buruh. Tidak ada lagi ustad di samping jamaah. Tidak ada lagi guru dan dosen di samping murid dan mahasiswa. Tidak ada lagi kulit putih di samping kulit hitam.

Tidak ada lagi orang tua atau senior di samping anak atau yunior. Tidak ada lagi laki-laki di samping perempuan. Tidak ada lagi malaikat di samping manusia.

Seolah-olah yang ada hanya Tuhan dan hamba. Sang ham- ba pun seolah-olah ingin melebur dengan Tu- hannya, sehingga seolah-olah terwujud sang hamba dan Tuhan sedang menyatu (Al-’abid wal ma’bud wahid).

Detik-detik menentukan terjadi saat kita merasakan suasana batin khusus yang tak pernah dirasakan di tempat lain.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Misteri Air Zamzam

Kesulitan berubah menjadi kenikmatan. Perjalanan jauh tidak lagi terasa, bau tidak lagi tercium di sela-sela jepitan berbagai suku bangsa. Terik matahari tidak lagi terasa panas di Mekkah.

Dingin tidak lagi tersa menggigit di Madinah. Sujud di punggung orang tidak lagi terasa masalah. Makanan sedikit dan sederhana terasa cukup dan nikmat. Kehilangan sandal dan dompet pun juga tidak menjadi persoalan.

Ini semua disebabkan oleh tulusnya sebuah penyerahan diri ke pada Allah SWT. Ini sebuah pelajaran penting manakala kita ikhlas maka tidak akan terjadi kekecewaan, apalagi hanya sekedar kelelahan.

Dengan kata lain, jika kita masih sering merasa kecewa dan kelelahan, maka itu pertanda keikhlasan kita belum sejati. Pengalaman demi pengalaman di Tanah Haram seolah menjadi kenangan yang terlalu sulit untuk dilupakan.

Pasti kita masih ingat, ketika kita sampai di mesjid Haram atau mesjid Madinah, semuanya memerebutkan shaf pertama. Sama-sama shalat tahiyyat mesjid.

Semua harus tunduk di bawah satu komando: Imam. Meskipun kedudukannya sangat sentral, imam tidak boleh semena-mena. Jika ia salah maka serentak makmumnya, laki-laki atau perempuan, sama-sama berhak dan berkewajiban membetulkannya.

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Asal Usul Air Zamzam

Jika imam tidak melakukan pelanggaran maka makmum wajib mengikut setia kepadanya. Makmum tidak boleh mendahului gerakan imam. Sistem yang mengatur antara imam dan makmum disebut imamah.

Ini juga menjadi pelajaran penting, manakala imam dan makmun menjalani kaedah imamah maka yang terwujud adalah jamaah yang solid atau masyarakat ideal.

Tidak ada masyarakat, negara, atau bangsa yang ideal tanpa aturan yang dipatuhi. Pengalaman batin ini perlu diendapkan di alam bawah sadar kita agar kita terkroteksi dari dosa-dosa baru.

Semoga para jamaah haji berusaha mempertahankan kemabruran hajinya hingga akhir hayatnya. ***