Menggapai Kemabruran Haji (23)

Mengabadikan Kemabruran Haji (3)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah sampai di tanah air, ada hal yang selalu kita ingat bahwa ukuran mabrur atau tidaknya haji kita diten- tukan perilaku kita di tanah air. Masih utuhkah komitmen pelepasan atribut egoisme kita di dalam kehidupan ini? Masih tampakkah kelembutan lafaz-lafaz talbiyah di dalam pergaulan kita?

Masih bertahankah kebeningan hati kita? Masih luruskah jalan pikiran kita? Masih bertahankah rasa cinta dan rindu kita kepada Nabi kita? Masih khusyukkah doa kita?

Masih lengkapkah shalat-shalat sunnat kita? Masih bertahankah frekuensi bacaan Al-Qur’an kita? Sudah berubahkah perlakuan kita terhadap pembantu dan supir kita?

Berita Terkait : Mengabadikan Kemabruran Haji (4)

Sebagai pemimpin, sudah berubahkah sikap kita terhadap rakyat kita? Sebagai pemegang amanah kekayaan, sudah berubahkah perlakuan kita terhadap fakir miskin?

Sudah berubahkah perlakuan kita kepada suami atau isteri dan anak-anak kita? Yang paling penting, sudah berubahkah relasi kita dengan Tuhan kita?

Apakah Tuhan kita sudah terasa semakin dekat? Apakah jiwa kita sudah semakin tenang? Apakah hati kita sudah semakin cerah? Apakah nafsu kita sudah semakin jinak? Apakah kebencian kita terhadap dosa dan maksiyat sudah sedemikian besar?

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Misteri Air Zamzam (2)

Apakah ibadah kita sudah semakin bergairah? Apakah pikiran kita sudah sedemikian lurus? Apakah perilaku kita sudah semakin lembut? Apakah tutur kata kita sudah semakin santun? Apakah hidup kita semakin optimis?

Apakah hubungan kita dengan alam sudah sedemikian bersahabat? Apakah rasa toleransi kita su- dah semakin terbuka? Kesemuanya ini adalah indikator mabrur atau tidaknya haji kita.

Tentu kita tidak ingin hanya mendapatkan haji maqbul (sah) tetapi lebih dari itu kita ingin haji mabrur, berdampak positif pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, lingkungan alam dan dengan Allah SWT. Aamiin!

Berita Terkait : Memahami Makna Simbolik Haji: Misteri Air Zamzam

Tegasnya, seberapa besar hujjaj mengalami perubahan (shifting), meninggalkan tradisi negatif yang selama ini melekat di dalam dirinya sekarang diganti dengan tradisi positif.

“Sebaik- baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya” (khair al-nas anfa’ahum li al-nas), demikian sabda Rasulullah menyebutkan. Para hujjaj harus berani menggunting langganan dosa-dosa kecil dan besar yang mungkin selama ini sulit ditinggalkan.

Kemabruran haji tidak lagi diukur intensitas relasi manusia dengan Tuhannya (hablun mi-nanllah) tetapi lebih ditentukan oleh relasi ke-manusiaan (hablun minannas). Seberapa besar ekspresi kemanusiaan yang ditampilkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
 Selanjutnya