DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pembahasan revisi Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi di Rapat Paripurna DPR Kamis pekan lalu menuai polemik.

Masyarakat kembali terbelah ada yang menyetujui revisi UU KPK dan ada yang menentang. Kalau saja pembahasan revisi UU KPK di bahas sebelum pemilu serentak pasti hasilnya akan lain.

Presiden Joko Widodo diharapkan mampu meredam kegaduhan yang terjadi antara DPR dan KPK.

“Ibarat lomba lari maraton antara DPR periode ini dan KPK, keduanya sudah memasuki garis finish masa tugasnya. Harusnya dapat mem berikan hadiah yang bagus untuk rakyat,” celetuk Petruk.

Romo Semar tidak mau komentar tentang perseteruan DPR dan KPK. Semar asyik menikmati kopi pahit dan jadah bakar. Kepulan asap rokok kelobot membuat pikiran Semar kembali ke masa di mana dirinya jadi korban perebutan kekuasaan dan wewenang di Mayapada.

Berita Terkait : Pandu Naik Surga

Kocap kacarito, Shang Hyang Wenang membagi tiga wewenang kepada anak-anaknya. Kekuasaan khayangan di berikan kepada anak ketiganya yakni Manik Maya.

Khayangan adalah tempat para dewa bersemayam. Manik Maya sebagai rajanya para dewa dan bergelar Bethara Guru. Semar atau Ismaya sebagai anak nomor dua diberi wewenang sebagai pamong satria berperilaku baik dan utama di Mayapada jika berhasil mengalahkan Ismaya dan Antaga.

Misi Durga terkenal jahat, merusak tatanan dan suka mengadu domba. daranya. Semar fokus menjalankan tugas sebagai pamong seperti amanat Shang Hyang Wenang.

Semar tidak tergiur kekuasaan baik di khayangan maupun di Mayapada. Sedangkan anak tertuanya yaitu Antaga atau lebih di kenal dengan sebutan Togog diberi kekuasaan menjaga para raja-raja ber perilaku jahat.

Konon ketiga anak Shang Hyang Wenang tersebut hasil dari “pujan” sebutir telor. Kulit telor menjelma menjadi Antaga. Putih telor menjadi Ismaya dan Kuning telor berubah menjadi Manik Maya.

Berita Terkait : Pindahnya Ibukota Singgelo Puro

Dalam perjalanannya, ketiga anak Shang Hyang Wenang tidak rukun. Masing-masing pihak merasa dirinya paling kuat dan berkuasa. Antaga merasa paling kuat karena terlahir dari kulit telur.

Manik Maya merasa paling sakti dan berhak atas kekuasaan yang lebih besar. Ismaya atau Semar memilih mengalah tidak terlibat perebutan kekuasaan antara kedua saudara.

Bethari Durga mengetahui adanya persaingan di antara anak-anak Shang Hyang Wenang. Sebagai istri Bethara Guru, Durga memiliki akses ke Khayangan.

Durga cerdik memanfaatkan suaminya Bethara Guru untuk dapat menguasai Mayapada dan Khayangan. Langkah pertama yang diambil Durga adalah menyingkirkan Ismaya dan Antaga.

Wewenang Ismaya sebagai pamong para satria luhur dipangkas. Begitu pula kekuasaan Antaga sebagai pamong raja-raja jahat diambil alih. Dalam menjalankan aksinya, Durga di bantu oleh anaknya Bethara Kala.

Berita Terkait : Merdeka dari Prabu Joko

Durga menjadi penguasa tunggal “Perseteruan DPR dan KPK jangan sampai dimanfaatkan oleh Durga dan Bethara Kala. Nanti yang jadi korban rakyat,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar.

“DPR sebagai lembaga tinggi negara memiliki wewenang sesuai dengan undang-undang. Begitu pula KPK sebagai lembaga independen juga memiliki aturan. Kembalikan kepada porsi masing-masing.

Setelah keduanya sepakat baru berembug dengan Presiden,” papar Romo Semar. Kalau ketiga lembaga bisa duduk bersama secara kekeluargaan rakyat akan senang. Tidak gaduh seperti yang terjadi saat ini. Oye. ***