Reaktualisasi Tahun Baru Hijriyah (9)

Tak Terlalu Jauh Maknai Hijrah (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hijrah dalam Al-Qur’an dan hadis mencakup mobilitas umat secara horizontal dan vertikal, dan secara fisik dan non fisik.

Namun sebaiknya jangan juga dimaknai lebih jauh sehingga keluar dari konteksnya sebagai strategi untuk menyelamatkan umat dan ajaran Islam, seperti yang terjadi dalam peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah.

Hijrah sebaiknya tidak dijadikan sebagai doktrin untuk memperjuangkan kelompok ideologi tertentu.

Akhir-akhir ini konsep hijrah dijadikan salah satu dari doktrin trilogi perjuangan kelompok. Secara implisit, kata hijrah akhir-akhir ini sudah sarat dengan makna ideologis.

Berita Terkait : Tak Terlalu Jauh Maknai Hijrah (2)

Hijrah sudah digunakan sebagai lambang pergerakan umat untuk meninggalkan suatu kelompok yang sudah mapan, lalu beralih kepada sebuah komunitas baru yang cenderung lebih eksklusif.

Hijrah dalam konteks ini sudah berbeda dengan pemahaman kelompok mainstream. Makna hijrah itu sendiri sudah berhijrah dari makna strategi perjuangan ke makna perjuangan yang lebih eksklusif.

Hijrah selama ini diartikan sebagai perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan motivasi tertentu, atau mobilitas sosial dari suatu tempat yang tidak kondusif untuk menjalankan ajaran Islam ke tempat lain yang lebih bermartabat.

Contoh populernya Nabi Muhammad SAW meninggalkan kota Mekkah ke kota Madinah karena desakan keadaan yang amat darurat. Akan tetapi, akhir-akhir ini hijrah dimaknai sebagai starting point untuk menginggalkan ideologi Fir’aun atau Thagut ke ideologi Islam.

Berita Terkait : Dari Islam Arab ke Islam Nusantara

Semua ideologi yang tidak tegas mengusung ideology Islam harus ditolak dengan cara apapun. Hijrah dianggap bagian dari aqidah, karena setiap orang wajib berpindah dari aqidah musyrik ke aqidah Islam.

NKRI dianggap tidak mengacu kepada Negara Islam, karena percaya pada kesaktian Pancasila. Mereka berjuang untuk menghijrahkan umat Islam Indonesia dari NKRI yang dianggappnya ideologi kafir ke Negara Islam Indoneisa (NII).

Mereka menganggap hijrah dari NKRI ke NII adalah fardhu ‘ain, yang tidak boleh ditawar. Bagi kelompok radikal, hijrah bagian dari trilogi yang harus diwujudkan, yaitu Iman, Hjrah, dan Jihad.

Iman diartikan sebagai keyakinan akan adanya Allah Swt Yang Maha Kuasa. Tidak ada kekuasaan yang boleh menyingkirkan kekuasaan-Nya.

Berita Terkait : Jazirah Arab dalam Proto Islam (1)

Termasuk dalam konsep Iman bagi mereka ialah memperjuangkan tegak dan tegasnya hukum Islam di dalam suatu wadah Negara Islam (Dar Al-Salam), sebagaimana disebutkan dalam ayat: 10: 25.

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam, dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Q.S. Yunus/10:25). ***