Menggapai Kesejukan Beragama (2)

Kitab Suci: Membumi untuk Melangitkan

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Membumi untuk melangitkan dimaksudkan untuk menjelaskan artikel terdahulu yang menguraikan bagaimana kitab suci dari Allah turun untuk memanusiakan manusia dan selanjutnya untuk melangitkan kembali umat manusia.

Tak seorang pun mengingkari bahwa Kitab Suci, khususnya Al-Qur’an berasal dari langit, yang menjadi dasar agama Islam.

Tidak salah jika Islam kemudian disebut sebagai agama langit (Al-Din Al-Samawy). Agama yang kitab sucinya diturunkan dari langit kemudian diturunkan ke bumi dalam dua proses penurunan, yang dikenal dengan cara al-inzal dan al-tanzil (lihat artikel terdahulu).

Sebagai agama langit yang diturunan ke bumi untuk dijadikan petunjuk kepada manusia sebagai sasaran agama tersebut, sudah barang tentu melalui proses tawar menawar antara sang subyek (agama) dengan sang obyek (manusia).

Berita Terkait : Mengedepankan Kejujuran

Pembumian ajaran sesungguhnya adalah bagian dari rahmat Tuhan untuk melangitkan kembali manusia.

Pembumian kitab suci mengandung konsekwensi manusia pada satu sisi memiliki potensi, otoritas, dan kapasitas tertentu yang juga semuanya berasal dari-Nya. 

Tetapi sisi lain manusia memiliki kekurangan yang prinsip sehingga mereka memerlukan bimbingan agar tidak jatuh terjerumus dengan kelemahan fundamental yang melekat pada dirinya.

Manusia dalam pandangan Islam bukan antroposentris, yang serba manusia, bukan juga teosentris yang serba Tuhan, tetapi manusia menurut Prof. S.H. Nasr, sebagai teomorfis, yaitu makhluk yang memiliki berbagai kelebihan tetapi memiliki kelemahan melekat pada dirinya sehingga masih tetap membutuhkan petunjuk Tuhan.

Berita Terkait : Langit Untuk Manusia

Karena itu, diturunkan kepadanya wahyu (Kitab) dan para Nabi untuk menjelaskan sekaligus mencontohkan pengamalan ba-gaimana petunjuk itu dilaksanakan.

Manusia tidaklah sepantasnya memaksa-kan kehendak agar manusia lain mengikuti petunjuk-Nya. Allah Swt tidak melakukannya dan para Nabi-Nya pun tidak melakukannya.

Bahkan Allah SWT menegaskan: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, (QS. Al-Qashash/28:56).

Dalam ayat lain Allah SWT menyindir orang-orang yang melampaui kapasitasnya, mau memaksakan keinginannya untuk dan atas nama agama: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.

Berita Terkait : Penyatuan Kalender Hijriyah Di Indonesia, Mungkinkah Terjadi?

Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Q.S. Yunus/10:99). ***

RM Video