Menggapai Kesejukan Beragama (21)

Mencontoh Kenegarawanan Nabi (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Salah satu masalah yang sering menjadi tantangan dalam upaya menggapai ketenangan hidup beragama di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara ialah ketegangan antara elit-elit masyarakat yang masing-masing memiliki pendukung (follower).

Dalam meraih dukungan, tidak sedikit di antara mereka melibatkan kekuatan primordial dan dalil-dalil agama.

Akibatnya problem yang tadinya hanya urusan politik menjadi problem antar etnik dan antar umat beragama.

Berita Terkait : Mencontoh Kenegarawanan Nabi (2)

Akibatnya lebih lanjut cost politik menjadi sangat mahal, karena bukan hanya mengorbankan biaya tetapi energi etnik, suku, dan agama juga ikut tersedot.

Para elit politik ada baiknya mengambil pelajaran dan mencontoh kenegarawanan Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat arif di dalam menyelesaikan masalah.

Betul-betul menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Lihatlah misalnya ketika Nabi Hijrah ke Yatsrib, kemudian diganti namanya oleh Nabi menjadi Madinah.

Berita Terkait : Harmonisasi Ulama dan Umara (2)

Atas undangan dua suku utama yaitu suku Aus dan suku Khazraj, kedua suku ini masing-masing meminta Nabi untuk bermukim ke lingkungan suku mereka.

Hampir saja terjadi konflik gara-gara memerebutkan Nabi. Untungnya, Nabi memberikan solusi dengan mengatakan, kita putuskan berdasarkan unta ini.

Di mana unta ini berhenti, di situlah saya akan bermukim. Unta yang membawa Nabi dibawa berkeliling kota Yatsrib dan akhirnya unta Nabi berhenti di suatu tempat yang kini menjadi masjid dan maqam Nabi.

Berita Terkait : Harmonisasi Ulama dan Umara (1)

Kebetulan tempat itu persis berada di perbatasan geografis kedua etnik itu. Subhanallah, perpecahan bisa terselesaikan.

Nabi melihat tanda-tanda membahayakan kalau para pengungsi dari berbagai daerah terus membanjiri kota Yatsrib yang daya dukungnya terbatas itu.

Mengantisipasi ketegangan antara kelompok pengungsi dan pribumi, maka Nabi mengganti nama kelompok ini dengan kaum Anshar (Penolong) untuk kelompok pribumi dan kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah) dari Mekkah dan sekitarnya. ***