Menggapai Kesejukan Beragama (23)

Jangan Mengusik Kerukunan Umat (1)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setiap orang atau kelompok berhak memperjuangkan cita-citanya, tetapi siapapun jangan ada yang mengusik kerukunan antar dan internal umat beragama.

Kerukunan eksternal dan internal umat beragama di tanah air seringkali mengalami gangguan oleh kepentingan subyektivitas seseorang atau kelompok.

Contoh yang sering terlihat bervariasinya umat Islam mengawali bulan suci Ramadhan.

Berita Terkait : Jangan Mengusik Kerukunan Umat (2)

Ada yang memulainya lebih awal, ada yang mengikuti pemerintah, dan ada yang terlambat beberapa hari, seperti yang dilakukan kelompok tarekat tertentu.

Di samping itu, muncul pula kekerasan antara mazhab syi’ah dan sunny beberapa waktu lalu di Madura, penyerangan anggota kepolisian oleh kelompok garis keras.

Menguatnya fenomena aliran di sejumlah Pemilukada, perang ayat dan hadis terhadap pro-kontra ziarah kubur, ber-zanji, peringatan maulid, jabat tangan, dan maraknya konflik internal dan kepemimpinan ganda ormas-ormas Islam dan orsospol politik yang bernafaskan Islam.

Berita Terkait : Jangan Ada Yang Membakar Emosi Umat (2)

Dalam dekade belakangan ini, ketegangan internal dan eksternal umat yang sudah pernah hilang atau melemah, akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan dengan sifat dan kualitasnya yang lebih kompleks.

Rumitnya persoalan tersebut seringkali dipicu dengan kepentingan politik nasional maupun lokal, seiring dengan berkembang pesatnya media cetak dan elektronik yang merebakkan kasus itu.

Situasi pasca reformasi agaknya memang masih menyisakan sejumlah problem.

Berita Terkait : Interaksi Hukum Positif dan Hukum Agama

Situasi kebebasan yang berlindung di bawah isu HAM, reformasi, demokrasi, keterbukaan, kebebasan berekspresi, kebebasan umat beragama, otonomi daerah, kesetaraan gender, dan globalisasi, mengubah pranata sosial yang selama ini telah mapan.

Atas nama reformasi, kesantunan publik disingkirkan. Atas nama HAM, kehidupan homo dan lesbi diberi peluang. Atas nama demokrasi, kearifan lokal digusur.

Atas nama kebebasan umat beragama, syinkretisme, bid’ah, dan khurafat dihidupsuburkan. Atas nama kebebasan mimbar, norma-norma sosial budaya diinjak-injak.***