Membaca Trend Globalisasi (32)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Menebar Silaturrahim

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Silaturrahmi jelas bukan hanya untuk sesama umat Islam tetapi lintas agama bahkan lintas primordial. Silaturrahim dalam arti menjalin tali kasih dengan siapapun sesama makhluk Tuhan. Allah Swt mencontohkan berdialog dengan iblis dan memenuhi permintaannya untuk dipanjangkan hidupnya sepanjang hidup umat manusia (Q.S. Shad/38:75-85). Ketika Rabi’ah Adawiyah ditanya apakah engkau membenci Iblis? Ia menjawab: Cintaku sudah memenuhi semua ruang dalam tubuhku sehingga tidak ada lagi tempat untuk membenci kepada siapapun. Pengakuan Iblis di atas mengaku bahwa semua orang akan takluk dihadapanku, “kecuali hamba-Mu yang mukhlashin” (Illa min ‘ibadik al-mukhlashin). 

Silaturrahim tidak dipilah dan dibedakan oleh atribut-atribut primordial manusia, seperti agama, ras, etnik, suku-bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan lain sebagainya. Al-Qur’an menegaskan: ”Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam” (Q.S. al- Isra’/17:70). Tuhan tidak menggunakan redaksi ”Allah memuliakan orang-orang Islam” (wa laqad karramna al-muslimun). Ini artinya siapapun sebagai anak cucu Adam wajib dihormati sebagai manusia. Al-Qur’an juga menggagas konsep ”ukhuwah imaniyah”, persaudaraan orang-orang yang berkeimanan. Al-Qur’an mengatakan: ”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah saudaramu” (Q.S. al-Hujurat/49:10). Tuhan tidak mengatakan ”sesungguhnya orang-orang Islam itu bersaudara” (innamal muslimin ikhwah). Ini artinya pengakuan terhadap orang-orang yang beriman. Soal keimanannya itu benar atau salah adalah persoalan lain dan itu lebih merupakan urusan Allah Swt. Al-Qur’an menegaskan: ”Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di anatara kamu” (Q.S. al-Hujurat/49:13). 

Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati kedalaman dan keluasan wawasan tokoh-tokoh NU yang pernah menggagas sinergi tiga konsep ukhuwah yang hidup di dalam wadah NKRI, yaitu persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan keislaman (ukhuwah islamiyah). Tidak boleh atas nama salahsatu konsep ukhuwah digunakan untuk merusak tatanan ukhuwah yang sudah mapan. Allah Swt dengan tegas mengatakan: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Q.S. al-Mumtahinah/60: 7-8). Nabi juga pernah menegaskan: “Barang siapa yang mendhalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian” (HR. Bukhari- Muslim).  Ada hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim menceritakan, Nabi memerintahkan untuk menshalat gaibkan sahabat Nabi, yaitu Raja Najasy ketika sampai kabar kematian kepadanya. Sahabat pun melakukan shalat gaib dengan empat kali takbir di masjid dan mendoakannya (HR Bukhari No. 3880-3881). Riwayat dari jalur Imam Muslim juga hampir sama redaksinya.


 

RM Video