Menggapai Kesejukan Beragama (37)

Mengenyampingkan Strategi Liberalisme (2)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Fenomena guyub yang selama ini menjadi bagian dari budaya masyarakat mulai tergerus oleh faham radikalisme dan liberalisme. Prinsip musyawarah dan gotong royong tergantikan oleh strategi politik yang sarat dengan kepentingan fragmatis.

Akibatnya adat-istiadat dan kearifan lokal bangsa Indonesia yang tidak pernah menolerir cara-cara kekerasan di dalam menyelesaikan persoalan mulai luntur.

Pada akhirnya nanti watak dasar bangsa Indonesia yang dikenal menjunjung tinggi etika ketimuran dalam arti mengedepankan kesantunan publik dan kesantunan sosial pun tergerus.

Berita Terkait : Mengatur Jarak Sosial Agama dan Negara (1)

Deliberalisasi di sini bukan berarti anti kemajuan, menolak segala sesuatu yang berasal dari luar, lalu kita menutup diri dan asyik dengan kondisi obyektif apa adanya di dalam diri bangsa.

Hal seperti ini sama saja kita set back ke budaya primitive. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini dan di masa depan ialah jalan di antara garis konservatisme dan liberalism. Inilah shirath Al-Mustaqim Indonesia. Manakala kita terlalu berat ke kiri kita akan jatuh menjadi Al-magdhub atau terlalu ke kanan kita akan jatuh ke Al-Dhalin.

Radikalisme adalah sebuah faham yang berusaha memahami dalil-dalil dan ajaran agama lebih ketat sehingga melahirkan pandangan dan perilaku keagamaan yang tegas dan keras (radikal).

Berita Terkait : Mengenyampingkan Strategi Liberalisme (1)

Sedangkan liberalisme adalah sebuah faham yang bersusaha memahami dalil-dalil dan ajaran agama lebih longgar sehingga melahirkan pandangan dan perilaku keagamaan yang sangat moderat (liberal).

Kedua aliran ini mempunyai kelompok pendukung di dalam masyarakat. Bahkan keduanya memiliki kelompok fanatik yang mengklaim alirannyalah yang paling benar dan berusaha merumuskan logika untuk memperkuat pendapatnya sambil mencari kelemahan kelompok selainnya.

Kelompok radikal, yang biasa juga disebut garis keras atau fundamentalis, selalu berusaha dan berjuang untuk membentengi umat dengan berbagai jargon, seperti kembali kepada Qur’an dan sunnah, kelompok pembela Islam, amar makruf nahi munkar, fi sabilillah, kelompok mujahidin, pembela Islam, dan berbagai jargon keagamaan lainnya.

Berita Terkait : Mengukur Dosis Deradikalisasi (2)

Yel-yelnya juga menggunakan kalimat-kalimat suci seperti “Allahu akbar”, dan yel-yel lainnya. Sedangkan kelompok liberal selalu berusaha untuk memperkenalkan ide-ide di dalam masyarakat bahwa Islam adalah agama kemanusiaan. ***